Home KONSULTASI SYARIAH TJ FIQIH IBADAH

Tanya Jawab Singkat Fiqh di Kala Mudik

166
SHARE

Berikut ini adalah hal yang sering ditanyakan masyarakat  selama mudik.

(Tanya jawab ini berfokus pada jawaban, bukan pembahasan, sehingga bentuknya ringkas dan praktis untuk yang butuh jawaban segera).

Soal: Kewajiban apa saja yang diringankan ketika dalam perjalanan?

Jawab: Shalat bisa di-jamak dan atau di-qashar, puasa bisa dibatalkan diganti di hari lain, shalat bisa di kendaraan jika tidak mungkin singgah.

Soal: Apa pengertian shalat jamak dan qashar?

Jawab: Jamak adalah menggabung dua waktu shalat dalam satu waktu, yaitu Zhuhur dan ‘Ashar, juga Maghrib dan ‘Isya. Shubuh tidak ada jamak.

Qashar adalah meringkas shalat yang empat rakaat; seperti Zhuhur, ‘Ashar, dan ‘Isya menjadi dua rakaat. Shubuh dan Maghrib tidak bisa di-qashar

Soal: Apa perbedaan jamak dan qashar?

Jawab: Jamak disebabkan oleh masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan), jika dikumpulkan semua dalil maka seperti sakit, takut dengan orang kafir, kesibukan yang sangat, hujan deras, safar, sedang menuntut ilmu syar’i, bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah sedang di rumah, tidak sakit, tidak hujan, beliau men-jamak shalat. Tapi, ini hanya boleh dilakukan sesekali saja, sebagaimana penjelasan ulama. Saat safar, jamak boleh dilakukan sebelum berangkat.

Qashar disebabkan oleh safar saja, dan dilakukannya hanya boleh jika sudah berangkat dan sudah keluar dari daerah asal.

Soal: Perjalanan sejauh apa agar diperbolehkan men-jamak atau meng-qashar shalat?

Jawab: Imam Ibnul Mundzir mengatakan ada lebih 20 pendapat tentang ini. Tapi, yang paling umum dianut oleh ulama sejak masa sahabat Nabi adalah jika sudah 4 Burud, yaitu sekitar 88 km.

Soal: Apakah boleh men-jamak/qashar shalat karena alasan macet?

Jawab: Macet, jika menghasilkan masyaqqat (kesulitan/kepayahan/kesempitan) maka boleh jamak shalat. Adapun qashar-nya tergantung jarak yang sudah ditempuh.

S: Mana yang lebih afdhal, men-jamak/qashar shalat atau shalat seperti biasa ketika dalam perjalanan?

Jawab: Jika syarat-syarat sudah terpenuhi, maka mengambil keringanan untuk jamak dan qashar lebih utama diambil. Sebab itu adalah karunia dari Allah Ta’ala bagi umatnya.

Soal: Apa hukumnya shalat duduk di atas kendaraan?

Jawab: Boleh, jika memang tidak memungkinkan untuk turun singgah. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukan dan juga para sahabat Nabi juga pernah melakukan.

Soal: Bagaimana bila terjebak macet dan tak sempat shalat berdiri, boleh shalat sambil duduk?

Jawab: Boleh, jika memang tidak mampu berdiri, baik karena sakit, atau karena posisi yang sulit berdiri secara normal. Fattaqullaha mastatha’tum – bertaqwalah kepada Allah semampu kamu.

Soal: Mana yang lebih afdhal, tetap berpuasa atau berbuka ketika dalam perjalanan?

Jawab: Jika dia kuat melanjutkan puasa, maka lebih baik dia puasa saja. Tapi, jika dia tidak kuat atau lemah, maka lebih baik berbuka saja. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah melakukan keduanya dalam safarnya, beliau pernah puasa, pernah juga berbuka.

Soal: Orang yang tetap berpuasa saat berpergian, misal dari Aceh ke Surabaya, dan ia sahur saat masih di Aceh, apakah berbukanya harus mengikuti waktu Aceh atau Surabaya?

Ikuti waktu di mana dia berada, jika saat sahur di aceh, maka ikuti waktu Aceh. Jika saat berbuka sedang di Surabaya maka ikut waktu di Surabaya, bukan di Aceh.

Soal: Saat terjebak macet, bolehkah tayamum dengan debu yang ada di jok mobil?

Jawab: Boleh, baik debu yang ada di jok, dinding, tanah, dan benda suci lain yang terdapat debu.

Soal: Apakah boleh berwudhu menggunakan air mineral? Harus berapa liter?

Jawab: Boleh, air mineral berasal dari air sungai atau pegunungan, suci dan mensucikan. Proses penyulingan atau pemurnian tidak mengubah hukum tersebut.

Soal: Boleh tidak shalat sambil duduk di samping penumpang lain yang berlainan jenis kelamin?

Jawab: Sebaiknya tidak demikian, tapi jika tidak memungkinkan dan tidak sampai bersentuhan tidak apa-apa. Atau, bisa juga men-jamak saja jika sudah sampai di tujuan

Soal: Apakah shalat boleh di-qadha?

Jawab: Boleh, khususnya pada shalat-shalat wajib yang baru saja ditinggalkan. Sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya seperti Umar Radhiallahu ‘Anhu, pernah melakukan. Tapi qadha terjadi karena ketiduran dan lupa, bukan saat terjaga dan sengaja. Adapun jika qadha-nya adalah shalat-shalat yang sudah lama ditinggalkan bertahun-tahun, maka ulama beda pendapat. Sebagian mesti qadha, dengan menghitung semampunya jumlah shalat yang ditinggalkan lalu dia shalat sebanyak-banknya untuk itu. Ulama lain mengatakan tidak ada qadha untuk yang seperti itu, tapi banyak-banyak shalat sunnah, istighfar, dan banyak taubat.

Soal: Bila pakaian terkena najis dan tak sempat diganti dalam perjalanan, tetap lakukan shalat atau di-qadha saja?

Jawab: Bersihkan saja, kucek-kucek sampai bersih, baik dengan air atau pasir, debu, yang bisa mensucikan. Jika tidak mungkin juga bisa di-jamak ta’khir saat sampai tujuan.

Soal: Apakah muntah termasuk najis?

Jawab: 4 madzhab menyatakan najis, tapi mereka berbeda dalam sifat zat muntah seperti apa yang najis itu.

Soal: Bolehkah buang air kecil di semak-semak saat terjebak macet?

Jawab: Pada dasarnya tidak boleh, sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang keras buang hajat di jalan tempat manusia lalu lalang dan tempat manusia berteduh. Tapi, jika kondisinya seperti yang ditanyakan, maka bisa kencing di botol lalu istinja dengan tisu, kalau tidak bisa juga maka kencing di semak adalah pilihan terakhir. Kaidahnya: Idza dhaqqa ittasa’a – jika keadaan sulit dan sempit maka dilapangkan.

Soal: Bagaimana cara berwudhu yang hemat air?

Jawab: Bisa membasuh yang wajib saja, wajah, kepala, tangan sampai siku, kaki sampai mata kaki.

S: Selama di kampung apakah shalat boleh di-jamak/qashar?

Jawab: Boleh, qashar saja, tanpa jamak. Jamak boleh lagi dilakukan jika ada masyaqqat (kesulitan) di sana. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah qashar 20 hari di Tabuk, beberapa sahabat Nabi ada yang qashar 6 bulan, 1 tahun, bahkan 2 tahun, itu dilakukan dengan syarat tidak berniat jadi penduduk tetap di situ.

Soal: Apa hukum ziarah kubur?

Jawab: Sunnah, dan bisa dilakukan kapan saja

Soal: Apa hukum membaca Qur’an saat ziarah kubur?

Jawab: Khilafiyah ulama, antara yang membolehkan seperti Imam Asy Syafi’i dalam riwayat Abu Bakar Al Khalal dalam kitab Al Quraah fil Qubuur, juga Imam Ahmad bin Hanbal seperti yg disebutkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir, dan Imam Ibnul Qayyim dalam Ar Ruuh. Sementara ulama lain memakruhkan seperti Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.

Soal: Apa yang harus dilakukan saat ziarah kubur?

Jawab: Ucapkan salam, membuka alas kaki jika memungkinkan, mendoakan, dan dzikrul maut, ini disepakati anjurannya. Sedangkan yang diperselisihkan seperti membaca Al Quran, menyiram air, dan meletakkan pohon di kubur.

Yang dilarang adalah meninggikan kubur melebihi sejengkal, meratap, dan meminta-minta kepada penghuni kubur.

Soal: Apa hukumnya memanfaatkan jasa penukaran uang di pinggir jalan, yang mana uang yang dikembalikan ke kita jumlahnya lebih kecil daripada uang yang kita berikan?

Jawab: Itu terlarang. Tampaknya “penukaran”, tapi itu adalah membeli uang pakai uang. Ini terlarang. Kalaupun mau dikatakan penukaran, juga terlarang. Yaitu merupakan riba nasi’ah: pertukaran barang sejenis dengan adanya nilai lebih. Ini haram juga.

Soal: Bila sedang puasa sunnah (puasa syawal) dalam suasana lebaran, lalu silaturrahim ke rumah saudara dan di sana disuguhi makanan, apakah harus dibatalkan puasa sunnahnya?

Jawab: Bebas memilih, lanjutkan puasa atau batalkan. Untuk puasa sunnah, kata Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kita adalah rajanya. Batalkan silakan, lanjutkan juga bagus.

Soal: Apakah memungkinkan mencari malam lailatul qadar bila sedang dalam perjalanan?

Jawab: Lailatul Qadar adalah milik siapapun yang beribadah saat itu. Baik sedang i’tikaf, safar, di rumah sakit, di rumah saja, yang penting dia ibadah saat itu. Baik shalat sunnah, tilawah, dan dzikir. Jadi, I’tikaf bukan syarat untuk mendapatkan Lailatul Qadar.

Selamat mudik.

Syariat Islam tidak untuk memberatkan kita. Tapi sebagai sarana menghamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah