Home KONSULTASI SYARIAH

Tradisi Menyambut Ramadhan, Apakah Termasuk Bid’ah?

58
SHARE

Pertanyaan:

Bismillah
Semoga Allah senantiasa merahmati ustadz.

Ustadz, izin bertanya.
Didaerah ana sebelum masuk Ramadhan biasanya masyarakat
1. Membuat satu tradisi keagamaan, (cerama agama, ngaji dan makan bersama). Hal ini dilakukan oleh seluruh jamaah dalam 1 kampung dan biasanya dilaksanakan 2 atau 3 hari sebelum bulan Ramadhan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat bisa berjumpa lagi dengan bulan Ramdhan.

2. Setelah Ramadhan ada kegiatan lagi yang dilakukan oleh keluarga, yakni mengundang pengurus takmir dan beberapa tetangga kemudian meminta imam atau orang yang dianggap memiliki kelimuan dan shaleh untuk mendokan sebegai bentuk syukur bisa melewati Ramdahan dan bermohon bisa berjumpa lagi dengan ramadhan berikutnya, selanjutnya makan bersama.

Disisi lain dari beberapa teman yang sudah ikut ngaji menganggap ini ada perbuatan bid’ah dan mereka tidak ikut berpatisipasi dalam kegiatan ini.

Pertanyaan
1.Defenisi Bid’ah ini bagaimana ustadz?
2.apakah agenda diatas masuk kategori bid’ah?
3.apakah semua yang tidak ada dalilnya walaupun baik itu juga bid’ah?

Mohon pencerahannya ustadz.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim..

Ini bukan bid’ah. Menyambut datangnya bulan Ramadhan juga dilakukan para salaf. Imam Ibnu Rajab menceritakan bahwa para sahabat sudah menyiapkan diri merwka sejak 6 bulan sebelum Ramadhan.

Ada pun bagaimana cara penyambutannya adalah perkara yang lapang. Tapi, yang sering terjadi yaitu berkumpul diberikan pembekalan ilmu, persiapan ruhiyah. Ini bagus. Sebab, itu bagian dari aktifitas yang memang dianjurkan.

Begitu pula menjelang lebaran, berkumpul dengan keluarga, dan tetangga, sambil ada taushiyah dan doa dari orang shalih, lalu buka puasa bersama. Ini bagus. Tidak ada kemungkaran yang mesti diingkari. Jika ada yang menyebutnya bid’ah maka dia bersikap ghuluw (melampaui batas).

Bid’ah adalah hal baru dalam ibadah mahdhah, yang dulunya belum ada. Sedangkan Ibadah ghairu mahdhah, lebih lentur. Seperti infak, silaturrahim, semuanya ibadah, tapi tentang caranya bagaimana, berapa besarannya, itu tidaklah baku, alias bebas saja kecuali zakat.

Jihad, juga ibadah, tapi tentang pengembangan senjata dan strategi, tentu tidak harus sama dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena beda zaman dan kondisi. Pengembangan ini bukanlah bid’ah padahal jihad juga ibadah.

Wallahu A’lam