Home FIQIH FIQIH MUAMALAH

Ulama Berpolitik, Why Not?

75
SHARE

Politik itu kotor, oh ya?

Imam Ibnu ‘Aqil mengatakan:

“Politik adalah segala tindakan yang membuat manusia semakin dekat dengan kebaikan dan semakin jauh dari kerusakan.” (I’lamul Muwaqi’in, 2/26)

Politik itu sadis, masa sih?

Imam Ibnul Qayyim mengatakan: “Sesungguhnya kami menamakan POLITIK, karena mengikuti istilah mereka, padahal itu adalah keadilan Allah dan RasulNya.” (Ibid)

Jadi, yang bilang politik itu kotor dan kejam, karena mereka melihat fenomena perilaku penjahat-penjahat politik, yang lebih pas disebut sebagai penumpang gelap di gerbong politik.

Mereka tidak melihat pada bagaimana para ulama membimbing umat dalam teori politik Islam

Maka, mengatakan “ulama jangan berpolitik” merupakan racun berbalut gula.

Gula, karena nampaknya begitu manis dan bijak, menyucikan agama.

Racun karena sesungguhnya itu adalah gagasan sekulerisme, yang menjauhkan agama dari kehidupan manusia.

Ide ini memberikan apresiasi besar kepada para ulama yang hanya di pondok pesantren kajian-kajian, masjid-masjid, tapi ulama yang membicarakan ekonomi syariah, politik, negara, kepemimpinan, kekuasaan, adalah musuh bagi mereka.

Maunya mereka ulama itu cukup membicarakan hati dan ruhani,  dan sekarung khilafiyah fiqih, sebab kesibukan ulama di situ membuat kezhaliman penguasa tidak tersentuh.

So, biarlah ulama kami berpolitik sebagaimana Khulafaur Rasyidin; ulama dan umara sekaligus.

Sebagaimana Umar bin Abdil Aziz, ulama, umara, mujaddid, dan juga mujtahid.

Jangan pisahkan ulama kami dari kehidupan berbangsa dan bernegara kami.

Wallahu yahdina ilaa sawaa’is sabiil

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah