Home KONSULTASI SYARIAH TJ AQIDAH

Ushul dan Furu’ Dalam Aqidah, Bagaimana Menyikapinya?

789
SHARE

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Ustadz. Apa benar bahwa dalam hal aqidah itu ada pembagian istilah ushul dan furu’? Jika memang ada, hal apa saja contohnya dari masing-masing itu?

Jawaban:
Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah.

Ada perbedaan pendapat dalam hal ini:

1. Kelompok ulama yang menolak adanya pembagian ushul (pokok) dan furu’ (cabang) dalam masalah aqidah.

Misalnya, Imam Ibnu Taimiyah, bahkan beliau menyebut pembagian itu adalah bid’ah, dan merupakan ide dari mu’tazilah. Serta pembagian ini tidak dikenal oleh sahabat, tabi’in, dan para imam generasi awal. (Mukhtashar Al Fatawa Al Mishriyah, Hal. 68)

2. Kelompok ulama yang mengakui adanya ushul dan furu’ dalam aqidah.

Syaikh Abdullah Al Faqih mengatakan:

فإن أصول العقيدة هي الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره، وأما الفروع فهي ما يتفرع عن هذه الأصوال من المباحث العقدية.

Perkara ushul dalam aqidah adalah seperti iman kepada Allah, malaikat, kitab-kitabNya, para rasulNya, hari akhir, serta qadha dan qadar.

Sedangkan furu’nya adalah apa-apa yang menjadi rincian cabang yang pokok ini dari berbagai pembahasan aqidah. (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyyah no. 93671)

Para ulama memberikan contoh yang furu’, seperti: melihat Allah di surga, isra mi’raj itu jasad dan ruh atau hanya ruh saja, dll.

Wallahu a’lam.

Pertanyaan lanjutan:

Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan tersebut, Ustadz? Karena turunan dari hal tersebut menjadi madzhab dalam keberagamaan suatu jama’ah. Contohnya, ada jama’ah yang menolak pembagian tentang aqidah tersebut, lalu dikaitkan dengan pemahaman sifat Allah seperti: tangan, tempat Allah berada, dan ‘arsy. Dimana jama’ah yang menolak adanya pembagian aqidah tersebut mengatakan bahwa Allah berada di atas atau tangan Allah itu adalah tangan tapi yang berbeda dengan makhluk lainnya. Sedangkan sebaliknya (yang membagi aqidah pada 2 istilah tersebut, ushul dan furu’) memberikan penafsiran yang berbeda.

Jawaban:
Sama dalam menyikapi perbedaan ushul dan furu’ dalam fiqih.

Tegas dalam ushul, toleran dalam furu’.

Saya pribadi ikut pendapat bahwa dalam aqidah semuanya ushul, tinggal adabnya saja dijaga. jika kita berhadapan dengan saudara kita yang berpendapat adanya furu’ aqidah, kita tidak langsung menuduhnya sesat jika dia mengikuti ulama yang meyakini demikian.

Sebagian orang atau kelompok, ada yang bersikap keras dalam hal ini bisa dimaklumi tapi belum tentu sikap itu layak diikuti.

Yang mesti dikeraskan adalah jika ada pelanggaran dalam hal yang ushul atau pengingkaran secara mutlak. Keras bukan berarti kekerasan fisik.

Wallahu a’lam.