Home AKHLAK & ADAB

Hati-Hati dengan Ar Ruwaibidhah

68
SHARE

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

«سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ» ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: «الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ»

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh kebohongan, saat itu pendusta dibenarkan, orang yang benar justru didustakan, pengkhianat diberikan amanah, orang yang dipercaya justru dikhianati, dan Ar-Ruwaibidhah berbicara.” Ditanyakan: “Apakah Ar-Ruwaibidhah?” Beliau bersabda: “Seorang laki-laki yang bodoh [Ar Rajul At Taafih] tetapi sok mengurusi urusan orang banyak.” (H.R. Ibnu Majah No. 4036. Ahmad No. 7912. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dha’if Sunan Ibni Majah No. 4036. Dihasankan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Ta’liq Musnad Ahmad No. 7912. Al Hafizh Ibnu Hajar mengatakan: sanadnya jayyid. Lihat Fathul Bari, 13/84)

Imam As Suyuthi Rahimahullah mengatakan:

الخداع الْمَكْر وَالْحِيلَة وَإِضَافَة الخداع الى السنوات مجازية وَالْمرَاد أهل السنوات

Al Khadda’ artinya makar dan muslihat. Dikaitkannya Al Khadda’ kepada As Sanawat [tahun-tahun] merupakan majaz, maksudnya adalah orang yang hidup di tahun-tahun tersebut. (Syarh Sunan Ibni Majah, 1/292)

Ini merupakan prediksi kenabian, bahwa akan datang masa di mana manusia dipenuhi tipu daya, muslihat, dan kebohongan. Kalimat-kalimat selanjutnya dalam hadits ini merupakan tafshil (perinci) dari muslihat-muslihat tersebut. Intinya, saat itu banyak manusia yang berlagak menjadi ahli padahal bukan. Sementara yang ahli justru dijauhi dan tidak dipercaya, sehingga yang terjadi adalah kehancuran. Ini terjadi bukan hanya pada perkara dunia tapi juga agama.

Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah berkata:

وَمَضْمُونُ مَا ذُكِرَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ فِي هَذَا الْحَدِيثِ يَرْجِعُ إِلَى أَنَّ الْأُمُورَ تَوَسَّدُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهَا، كَمَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لِمَنْ سَأَلَهُ، عَنِ السَّاعَةِ: ” «إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ» “

Kandungan yang tertera dalam hadits ini adalah berupa di antara ciri-ciri datangnya kiamat, yaitu kembali pada makna bahwa banyak urusan disandarkan kepada yang bukan ahlinya. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ kepada orang yang bertanya kepadanya tentang arti As Saa’ah [kiamat/kehancuran]: “Jika urusan disandarkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.” (Jaami’ Al ‘Uluum wal Hikam, 1/139)

Kita lihat, manusia berbohong untuk menjadi pegawai pemerintah, perusahaan, atau apa saja, dengan memalsukan ijazah atau biodata, risywah, dan sebagainya, sehingga orang-orang yang seharusnya pantas tersingkirkan. Sehingga kerusakan ini tetap mengendap pada lembaga tersebut dan terangkatnya berkah darinya.

Para ulama direndahkan fatwanya, kepribadian mereka dilecehkan, dan dibuat jauh dari umatnya, sementara tukang dongeng, artis, dan pengkhuthbah karbitan dijunjung tinggi dan dijadikan rujukan. Ulama berbicara tidak didengar, boro-boro ditaati, tapi ketika para pendongeng berbicara justru didengar, dikutip, dan disebarkan.

Itulah Ar-Ruwaibidhah, secara bahasa merupakan tashghir (pengecilan) dari Ar Raabidh yang artinya berlutut. Ya, saat itu banyak orang-orang yang rendah (berlutut) tetapi justru banyak bicara.

Imam As Suyuthi Rahimahullah menerangkan:

قَوْله وينطق فِيهَا الرويبضة تَفْسِيره مَا مر من حَدِيث أنس قُلْنَا يَا رَسُول الله مَا ظهر فِي الْأُمَم قبلنَا قَالَ الْملك فِي صغاركم والفاحشة فِي كباركم وَالْعلم فِي رذالتكم وَالرجل التافه الرذيل والحقير والرويبضة تَصْغِير رابضة وَهُوَ الْعَاجِز الَّذِي ربض عَن معالي الْأُمُور وَقعد عَن طلبَهَا

Sabdanya “Dan Ar-Ruwaibidhah berbicara”, tafsirnya adalah seperti yang disebutkan dalam hadits Anas: “Kami berkata; Wahai Rasulullah, apa yang nampak dari umat-umat sebelum kita?” Beliau bersabda: “Rajanya justru datang dari orang kecil di antara kamu, para pelaku kekejian justru adalah orang-orang besar kalian, dan ilmu justru ada pada orang jahatnya kalian.” Ar Rajul At Taafih artinya orang yang jahat dan hina. Dan, Ar-Ruwaibidhah adalah pengecilan dari Raabidhah, yaitu orang yang lemah yang berlutut kepada orang-orang mulia yang memahami urusan, lalu dia duduk dan belajar kepadanya. (Syarh Sunan Ibni Majah, 1/292)

Para Ar Ruwaibidhh ini hanya bisa komentar sana sini, sementara orang-orang yang berjuang (mujahidin), para ulama, dan ‘aamiliin (aktivis) -yang sudah melangkah jauh dengan amal- juga tidak luput dari komentar-komentar para Ar-Ruwaibidhah ini. Mereka mencelanya, merendahkan, dan sengaja membuat stigma negatif kepada mujahidin, ulama, dan aktivis, agar umat menjauhinya, sebaliknya para Ar-Ruwaibidhah memuji yang tidak layak dipuji dan mengangkat yang tidak layak diangkat agar dia dan semisalnya lebih banyak pengikut dan pengaruhnya.

Wallahu A’lam.

Wa Lillahil ‘Izzah wa Lir Rasul wa Lil Mu’minin.