Home FIQIH IBADAH

Apakah Ada Istilah “Boros” dan Berlebihan dalam Berinfaq dan Bersedekah?

372
SHARE

Sesungguhnya para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Sebagian yang mengatakan tidak boleh berlebihan sebab itu masuk keumuman ayat larangan pemborosan, sebagian lain mengatakan tidak pantas menyebut pemborosan (tabdzir) dalam berinfaq.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaithan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Q.S. Al Isra’: 27)

Imam Asy Syaukaniy Rahimahullah menjelaskan:

التَّبْذِيرُ: هُوَ أَخْذُ الْمَالِ مِنْ حَقِّهِ، وَوَضْعُهُ فِي غَيْرِ حَقِّهِ، وَهُوَ الْإِسْرَافُ، وَهُوَ حَرَامٌ

At Tabdzir [pemborosan] adalah mengambil harta dari haknya lalu meletakkannya pada bukan haknya, dan itu adalah israf [berlebihan], dan statusnya haram. (Fathul Qadir, 3/263)

Beliau juga menjelaskan bahwa berlebihan dalam infaq termasuk keumuman ayat di atas:

وَالْإِسْرَافُ فِي الْإِنْفَاقِ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا فَعَلَهُ أَحَدٌ مِنْ بَنِي آدَمَ فَقَدْ أَطَاعَ الشَّيْطَانَ وَاقْتَدَى بِهِ

Berlebihan dalam infaq termasuk perbuatan syaithan, maka jika seseorang melakukannya maka dia telah mentaati dan mengikuti syaithan. (Ibid)

Sementara itu, sebagian imam salaf menegaskan bahwa tabdzir itu hanya ada pada infaq yang bukan hak, tapi jika pada haknya, di jalan yang benar maka tidak termasuk tabdzir, walau dia menginfaqkan semua hartanya sebagaimana Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu.

Imam Mujahid berkata:

لو أنفق إنسان ماله كله في الحق، لم يكن مبذرًا، ولو أنفق مدًا في غير حقه كان تبذيرًا.

Seandainya manusia berinfak seluruh hartanya untuk kebenaran bukanlah termasuk tabdzir, tetapi berinfaq di jalan yang bukan al haq walau satu mud, itulah yang mubadzir.

Imam Qatadah berkata:

التبذير: النفقة في معصية الله تعالى، وفي غير الحق وفي الفساد.

Pemborosan itu adalah infak dalam hal maksiat kepada Allah ﷻ dan pada jalan yang tidak benar dan kerusakan.(Tafsir Ibnu Katsir, 5/69)

Manakah yang lebih kuat? Allah ﷻ tegaskan dalam ayat berikut:

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

Dan orang-orang yang apabila menginfaqkan harta, mereka tidak berlebihan, dan tidak [pula] kikir, dan adalah di tengah-tengah antara yang demikian. (Q.S. Al Furqan: 67)

Ayat lainnya:

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (Q.S. Al Isra: 29)

Maksud “tanganmu terbelenggu”, kata Imam Ibnu Katsir: Laa takun bakhiilan manuu’a – jangan kikir.

Sedangkan maksud “jangan terlalu mengulurkannya”:

أي: ولا تسرف في الإنفاق فتعطي فوق طاقتك، وتخرج أكثر من دخلك، فتقعد ملومًا محسورًا.

Yaitu janganlah berlebihan dalam infakq dengan memberikan di atas kemampuanmu, dan mengeluarkan harta lebih banyak dibanding pemasukanmu, yang dengan itu kamu menyesalinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/70)

Demikian. Wallahu A’lam.

🖋 Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah