Home DZIKIR & DOA

Momen-Momen Dianjurkan Bershalawat kepada Rasulullah ๏ทบ

32
SHARE

๐Ÿ“Œ Imam Al Qurthubi mengatakan bahwa shalawat adalah wajib seumur hidup minimal sekali, di luar itu adalah sunnah muakkadah. Beliau berkata:

ู„ุงุฎู„ุงู ููŠ ุฃู† ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ููŽุฑู’ุถูŒ ููŠ ุงู„ุนู…ุฑ ู…ุฑุฉุŒ ูˆููŠ ูƒู„ ุญูŠู† ู…ู† ุงู„ูˆุงุฌุจุงุช ูˆูุฌููˆุจูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู†ู‘ูŽู†ูŽ ุงู„ู…ูุคูƒูŽุฏูŽุฉูŽ ุงู„ุชูŠ ู„ุง ูŠูŽุณูŽุนู ุชูŽุฑูŽูƒูŽู‡ูŽุง ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุนู’ู‚ูู„ูู‡ูŽุง ุฅูู„ู‘ูŽุง ู…ูŽู†ู’ ู„ูŽุง ุฎูŽูŠู’ุฑูŒ ูููŠู‡ู “

โ€œTidak ada perbedaan pendapat bahwa bershalawat kepada Nabi ๏ทบ hukumnya wajib sekali seumur hidup. Namun, setiap kali disebut nama beliau, termasuk perkara-perkara yang diwajibkan adalah melaksanakan sunnah-sunnah yang sangat ditekankan, yang tidak semestinya ditinggalkan. Tidak ada yang meninggalkannya kecuali orang yang tidak memiliki kebaikan.โ€ (Tafsir Al Qurthubi, Jilid 14, Hal. 233).

๐Ÿ“Œ Adapun menurut Imam Asy-Syafiโ€˜i, bershalawat kepada Nabi ๏ทบ hukumnya juga wajib pada tasyahhud akhir dalam setiap shalat, itu juga pendapat sebagian sahabat dan tabi’in, serta sebagian Hanabilah dan Malikiyah. Sedangkan mayoritas ulama berpendapat hukumnya sunnah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Jalaโ€™ul Afham.

๐Ÿ“Œ Secara umum bershalawat kepada Rasulullah ๏ทบ ada dua keadaan: muthlaq dan muqayyad.

๐Ÿ“Œ Muthlaq artinya bebas tanpa terikat oleh momen, keadaan, atau peristiwa tertentu. Kapan pun bisa dilakukan; di rumah, di masjid, saat makan, minum, berjalan, di kendaraan, bebenah rumah, di kantor, di pasar, dalam keramaian, dan lain-lain.

๐Ÿ“Œ Muqayyad artinya shalawat yang dilakukan karena terikat oleh waktu atau sebab khusus. Di antaranya:

1๏ธโƒฃ Saat mendengarkan nama Rasulullah ๏ทบ disebut di hadapannya

Dari Al Husein bin Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhuma bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ุงู„ุจุฎูŠู„ู ุงู„ุฐูŠ ู…ู† ุฐููƒูุฑู’ุชู ุนู†ุฏูŽู‡ ูู„ู… ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุนู„ูŠู‘ูŽ

Orang kikir adalah orang yang saat namaku disebut di hadapannya ia tidak bershalawat kepadaku. (H.R. At Tirmidzi No. 3546, At Tirmidzi berkata: Hasan shahih).

Kikir atau pelit di sini bukan pelit kepada Rasulullah ๏ทบ tapi pelit kepada diri sendiri. Sebab, ia telah menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan keutamaan yang begitu besar dan banyak.

2๏ธโƒฃ Ketika duduk tasyahud akhir

Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat:

Pertama. SUNNAH bershalawat di duduk tasyahud akhir.

Inilah pendapat:

– Hanafiyah (Imam Az Zaila’i, Tabyinul Haqaiq, 1/108. Imam Al ‘Aini, Al Binayah, 2/274)
– Malikiyah (Imam Ibnu Abdil Bar, Al Kaafi, 1/205, Imam Al Qarafi, Adz Dzakhirah, 2/218)
– salah satu riwayat dari Imam Ahmad (Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 1/388)
– Madzhab zhahiriyah (Imam Ibnu Hazm, Al Muhalla, 3/50)
– dan ini adalah pendapat mayoritas ulama (Imam Al Qurthubi, Al Jaami’ Liahkamil Qur’an, 14/235), bahkan Imam Ibnu Baththal mengutip dari Imam Ath Thabari dan Imam Ath Thahawi, bahwa telah ijma’ baik salaf dan khalaf, bahwa itu adalah sunnah. (Syarh Shahih Al Bukhari, 2/447)

Kedua. WAJIB bershalawat saat duduk tasyahud akhir

Ini adalah pendapat:

– Para sahabat Nabi seperti Ibnu Mas’ud, Abu Mas’ud Al Badri, Ibnu Umar

– Para tabi’in seperti Abu Ja’far Muhammad bin Ali, Asy Sya’bi, dan Muqatil bin Hayyan. (Imam Ibnul Qayyim, Jalaa’ul Afhaam, Hal. 163)

– Imam Asy Syafi’i dan pengikutinya. (Imam An Nawawi, Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/465)
– juga Hanabilah (Imam Al Buhuti, Qassyaaf Al Qinaa’, 1/388, Imam Ibnu Qudamah, Al Mughni, 1/388)

– sebagian Malikiyah (Imam Ibnul ‘Arabi, Ahkamul Qur’an, 3/623), juga Syaikh bin Baaz. (Majmu’ Fatawa, 3/291)

Sedangkan pada tasyahud awal umumnya ulama mengatakan tidak disunnahkan bershalawat baik menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i (pada qaul qadim), dan Imam Ahmad. Sedangkan pada qaul jadid-nya, Imam asy Syafi’i mengatakan sunnah.

3๏ธโƒฃ Hendak masuk ke masjid atau keluar masjid

Sebelum masuk, dianjurkan shalawat dan berdoa masuk masjid. Tidak sedikit manusia yang melupakannya, ada pula yang berdoa saja, namun tidak bershalawat.

Fathimah Radhiyallahu ‘Anha bercerita:

ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงุบู’ููุฑู’ ู„ููŠ ุฐูู†ููˆุจููŠ ูˆูŽุงูู’ุชูŽุญู’ ู„ููŠ ุฃูŽุจู’ูˆูŽุงุจูŽ ุฑูŽุญู’ู…ูŽุชููƒูŽ

“Apabila Rasulullah ๏ทบ masuk masjid, beliau BERSHALAWAT dan SALAM ke atas Muhammad dan berdoa, “ALLAHUMMAGHFIRLI DZUNUBY WAFTAH LI ABWABA RAHMATIKA (Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu).” (H.R. Ahmad No. 25212. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih lighairih).

4๏ธโƒฃ Ketika berdoa

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid Radhiyallahu ‘Anhu berkata:

ุณูŽู…ูุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ูููŠ ุตูŽู„ูŽุงุชูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูู…ูŽุฌู‘ูุฏู’ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุชูŽุนูŽุงู„ูŽู‰ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุตูŽู„ู‘ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุนูŽุฌูู„ูŽ ู‡ูŽุฐูŽุง ุซูู…ู‘ูŽ ุฏูŽุนูŽุงู‡ู ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ู„ูŽู‡ู ุฃูŽูˆู’ ู„ูุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุฅูุฐูŽุง ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุฃูŽุญูŽุฏููƒูู…ู’ ููŽู„ู’ูŠูŽุจู’ุฏูŽุฃู’ ุจูุชูŽู…ู’ุฌููŠุฏู ุฑูŽุจู‘ูู‡ู ุฌูŽู„ู‘ูŽ ูˆูŽุนูŽุฒู‘ูŽ ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽู†ูŽุงุกู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ูŠูŽุฏู’ุนููˆ ุจูŽุนู’ุฏู ุจูู…ูŽุง ุดูŽุงุกูŽ

Rasulullah ๏ทบ mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya, tetapi ia tidak memuji dan mengagungkan Allah Taโ€˜ala serta tidak bershalawat kepada Nabi ๏ทบ. Maka Rasulullah ๏ทบ bersabda, โ€œOrang ini tergesa-gesa.โ€

Kemudian beliau memanggilnya dan berkata kepadanya atau kepada yang lain, โ€œApabila salah seorang di antara kalian berdoa, hendaknya ia memulai dengan mengagungkan Rabb-nya Yang Mahaperkasa lagi Mahamulia dan memuji-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi ๏ทบ, lalu setelah itu hendaknya ia berdoa dengan apa yang ia kehendaki.โ€ (H.R. Abu Daud No. 1481, shahih).

Bahkan shalawat menjadi sebab terkabulkannya doa. Dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ูƒู„ู‘ู ุฏูุนูŽุงุกู ู…ูŽุญู’ุฌููˆุจูŒ ุญุชู‰ ูŠูุตู„ู‘ูŽู‰ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู

Semua doa itu terhalang sampai ia bershalawat kepada Nabi. (H.R. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 721. Hasan lighairih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 2035).

5๏ธโƒฃ Ketika memulai majelis atau mengakhirinya

Ini sunnah menurut mayoritas ulama. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ู…ุง ุฌู„ุณูŽ ู‚ูˆู…ูŒ ู…ุฌู„ุณู‹ุง ู„ู… ูŠู‹ุฐูƒุฑูˆุง ุงู„ู„ู‡ูŽ ููŠู‡ู ุŒ ูˆู„ู…ู’ ูŠูุตู„ู‘ููˆุง ููŠู‡ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠู‘ู ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุŒ ุฅู„ุง ูƒุงู†ูŽ ุนู„ูŠู‡ูู… ุชูุฑูŽุฉูŒ ูŠูˆู…ู ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉู ุŒ ุฅู†ู’ ุดุงุกูŽ ุนูŽูุง ุนู†ู‡ู… ุŒ ูˆุฅู† ุดุงุกูŽ ุฃุฎุฐู‡ูู… ุจู‡ุง

โ€œTidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis, kemudian mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya dan tidak bershalawat kepada Nabi ๏ทบ, melainkan majelis itu menjadi kerugian bagi mereka pada hari Kiamat. Jika Allah menghendaki, Dia mengampuni mereka; dan jika Dia menghendaki, Dia menghukum mereka karena hal tersebut.โ€ (H.R. Abu Daud No. 4856, hadits hasan).

Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushannaf, membuat bab berjudul:

ู…ู† ูƒุงู† ูŠุตู„ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆูŠุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ู‚ุจู„ ุฃู† ูŠู‚ูˆู… ู…ู† ู…ุฌู„ุณู‡

Orang yang bershalawat kepada Nabi ๏ทบ dan memuji Allah sebelum ia berdiri meninggalkan majelisnya

Beliau meriwayatkan perilaku kaum salaf sebagai berikut:

ุญุฏุซู†ุง ูˆูƒูŠุน ุนู† ู…ุณุนุฑ ุนู† ุนุงู…ุฑ ุจู† ุดู‚ูŠู‚ ุนู† ุฃุจูŠ ูˆุงุฆู„ ู‚ุงู„ : ู…ุง ุดู‡ุฏ ุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ู…ุฌู…ุนุง ูˆู„ุง ู…ุฃุฏุจุฉ ููŠู‚ูˆู… ุญุชู‰ ูŠุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆูŠุตู„ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆุฅู† ูƒุงู† ู…ู…ุง ูŠุชุจุน ุฃุบูู„ ู…ูƒุงู† ููŠ ุงู„ุณูˆู‚ ููŠุฌู„ุณ ููŠู‡ ูˆูŠุญู…ุฏ ุงู„ู„ู‡ ูˆูŠุตู„ูŠ ุนู„ู‰ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

โ€œWakiโ€˜ meriwayatkan kepada kami, dari Misโ€˜ar, dari โ€˜Amir bin Syaqiq, dari Abu Waโ€™il, ia berkata, โ€˜Tidaklah Abdullah (bin Masโ€˜ud) menghadiri suatu perkumpulan ataupun jamuan, lalu ia berdiri meninggalkannya, melainkan ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ๏ทบ. Bahkan, jika ia sedang berjalan lalu melihat tempat yang kosong di pasar, ia akan duduk di tempat tersebut, kemudian memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ๏ทบ.โ€™โ€ (Al Mushannaf, Juz 7, Hal. 131).

6๏ธโƒฃ Memulai khuthbah atau ceramah

Nabi ๏ทบ mengajarkan kepada para sahabat ketika hendak menyampaikan suatu keperluan agar membaca hamdalah dan shalawat kepada Nabi ๏ทบ:

ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุญูŽู…ู’ุฏูŽ ู„ูู„ู‘ูŽู‡ูุŒ ู†ูŽุญู’ู…ูŽุฏูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุนููŠู†ูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุณู’ุชูŽุบู’ููุฑูู‡ูุŒ ูˆูŽู†ูŽุนููˆุฐู ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุดูุฑููˆุฑู ุฃูŽู†ู’ููุณูู†ูŽุง… ูˆูŽุฃูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุญูŽู…ู‘ูŽุฏู‹ุง ุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ูˆูŽุฑูŽุณููˆู„ูู‡ู

Kemudian membaca ayat-ayat taqwa. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, At Tirmidzi, dan lain-lain, dan sanadnya shahih.

Adapun saat khuthbah Jum’at, membaca shalawat adalah salah satu rukun khuthbah menurut madzhab Syafi’i dan Hambali, bukan sekedar sunnah. Sedangkan dalam madzhab Hanafi dan Maliki, rukun khuthbah Jum’at hanya satu yaitu dzikir yang sempurna berupa khuthbah itu sendiri.

Demikian. Wallahu A’lam

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala Alihi wa Shahbihi wa Sallam

โœ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah