
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
التَّثَاؤُبُ مِنْ الشَّيْطَانِ فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَرُدَّهُ مَا اسْتَطَاعَ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَالَ هَا ضَحِكَ الشَّيْطَانُ
Menguap itu dari syaithan, jika salah seorang kamu menguap maka tahanlah semampunya, karena jika kamu bersuara “HA” maka syaithan tertawa. (H.R. Muttafaq ‘Alaih, dari Abu Hurairah).
Beragam penjelasan para ulama, di antaranya Imam Ibnul Baththal dalam Syarh Shahih Bukhari:
إضافة التثاؤب إلى الشيطان بمعنى إضافة الرضا والإرادة , أي : أن الشيطان يحب أن يرى الإنسان متثائباً ، لأنها حالة تتغير فيها صورته فيضحك منه ، لا أن المراد أن الشيطان فعل التثاؤب “.
Dikaitkannya menguap berasal dari syaithan, maksudnya kaitan ridha dan kehendak. Maknanya syaithan suka melihat orang menguap sebab itu keadaan berubahnya penampilan manusia dan syaithan menertawakannya. Bukan bermakna syaithan yang membuatnya menguap. (Syarh Shahih al Bukhari, 9/370),
Sementara Imam An Nawawi mengatakan itu adalah peringatan atas sebab munculnya menguap yaitu banyak makan:
التحذير من السبب الذي يتولد منه ذلك ، وهو التوسع المأكل
Warning terhadap sebab yang melahirkan hal tersebut, yaitu memperluas berbagai makanan. (Syarh Shahih Muslim, 18/122).
Adapun Imam Ibnul ‘Arabi mengaitkan menguap dengan kemalasan, itulah disebut berasal dari syaithan:
والتثاؤب من الامتلاء ، وينشأ عنه التكاسل ، وذلك بواسطة الشيطان
Menguap disebabkan kekenyangan, dan itu menghasilkan kemalasan, dan itu diperantarai oleh syaithan. (Dikutip oleh Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 10/612).
Demikian. Wallahu A’lam.














































