Home KONSULTASI SYARIAH TJ HADITS

Mengatakan Palsu terhadap Hadits Shahih atau Lemah

82
SHARE

Pertanyaan:

Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Ustadz Farid Numan yang kami cintai.

Apakah mengatakan hadits shahih/lemah sebagai hadits palsu bisa juga dikategorikan sebagai berdusta atas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?

Seperti ada sebagian orang mengatakan kumpulan dzikir banyak hadits palsunya, atau mengatakan satu amalan tak ada contoh dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, padahal ada riwayatnya.

Mohon penjelasan.

 

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:

Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.

Menilai suatu hadits sebagai shahih, hasan, dhaif, atau maudhu‘ (palsu) adalah perkara ilmiah yang harus didasarkan pada kaidah ilmu hadits dan penjelasan para ulama ahli hadits, bukan sekadar dugaan atau hawa nafsu. Jika seseorang tidak memiliki kompetensi, hendaknya ia mengatakan, “Saya tidak tahu,” atau menukil penilaian para ulama yang terpercaya.

Sedangkan menyebut “palsu” kepada suatu hadits shahih, apakah ini dianggap berdusta atas nama Rasulullah ﷺ? Maka ini perlu dirinci sebagai berikut:

✅️ Jika ia sengaja menyebut palsu padahal ia mengetahui hadits itu shahih tetapi tetap mengatakan “ini hadits palsu” untuk menolak ajaran Nabi ﷺ atau menyesatkan orang lain, atau karena fanatik terhadap pendapatnya, maka ia telah berdusta atas nama Rasulullah ﷺ. Ini termasuk dosa besar.

✅️ Tetapi jika ia keliru dalam ijtihad atau salah dalam menilai sanad karena keterbatasan ilmu, kelalaian dalam penelitian, maka ia tidak otomatis dihukumi berdusta, tetapi tetap wajib merujuk kepada ahli hadits dan tidak boleh sembarang berbicara tanpa ilmu.

✅️ Atau, karena memang keshahihannya masih diperdebatkan, maka ini tidak apa-apa. Ada beberapa hadits yang dishahihkan oleh sebagian ulama berdasarkan penelitiannya tetapi dinyatakan palsu oleh ulama lain berdasarkan penelitiannya. Seperti hadits-hadits dalam kitab Al Mustadrak ‘alash Shahihain-nya Imam Al Hakim An Naisaburi.

Imam Al Hakim  mengatakan hadits tentang orang yang berqurban akan mendapatkan pahala sejumlah bulu hewan qurban tersebut adalah shahih, tetapi Syaikh Al Albani mengatakan itu hadits palsu, sebagian lain mengatakan munkar.

Imam Al Hakim mengatakan shahih hadits tentang bahwa Rasulullah ﷺ adalah kotanya ilmu dan Ali adalah pintunya, sementara sebagian lain mengatakan palsu.

Demikian. Wallahu A’lam.