
Banyak ayat dan hadits yang mencela kehidupan dunia, misalnya:
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Q.S. Al-Hadid: 20).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
Ketahuilah, dunia itu terlaknat, dan terlaknatlah apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali berdzikir kepada Allah, apa-apa yang terkait dengan dzikir, orang berilmu atau penuntut ilmu. (H.R. At Tirmidzi No. 2322. At Tirmidzi berkata: hasan. Ibnu Majah No. 4112).
Namun apa maksud tercelanya dunia? Bagaimana penerapannya?
Dunia itu hakikatnya tidak tercela, selama manusia menguasainya dengan dasar iman dan taqwa, dan menjadikannya sebagai ladang akhirat. Dunia menjadi tercela ketika menyikapinya dengan dasar syahwat dan melupakan akhirat.
Oleh karena itu para ulama rabbani justru memandang dunia secara seimbang, tidak ekstrem membuangnya sebagaimana sikap sufi dan tidak ekstrem memujinya sebagaimana sikap kaum liberal dan hedon.
Imam Al Ghazali Rahimahullah berkata:
فإن الدنيا مزرعة الآخرة، ولا يتم الدين إلا بالدنيا
“Sesungguhnya dunia adalah ladang bagi akhirat, tidaklah sempurna agama kecuali dengan dunia.” (Ihya ‘Ulumuddin, 1/17).
Imam Ibnul Jauzi mengatakan:
واعلم أن خلقًا كثيرًا سمعوا ذم الدنيا ولم يفهموا المذموم، وظنوا أن الإشارة إلى هذه الموجودات التي خلقت للمنافع من المطاعم والمشارب، فأعرضوا عما يصلحهم منها فتجففوا فهلكوا، ولقد وضع الله جل وعلا في الطباع توقان النفس إلى ما يصلحها، فكلما تاقت منعوها ظنًّا منهم أن هذا هو المراد، وجهلًا بحقوق النفس، وعلى هذا أكثر المتزهدين”؛
Dan ketahuilah bahwa banyak sekali orang yang mendengar celaan terhadap dunia, namun mereka tidak memahami apa sebenarnya yang tercela itu. Mereka menyangka bahwa yang dimaksud adalah benda-benda yang ada (di dunia) yang diciptakan untuk kemanfaatan seperti makanan dan minuman. Maka mereka pun berpaling dari hal-hal yang sebenarnya bermanfaat bagi diri mereka, sehingga mereka menjadi kering (tertekan, menyusahkan diri) dan akhirnya binasa.
Padahal Allah Ta’ala telah meletakkan dalam tabiat manusia kecenderungan jiwa kepada hal-hal yang memperbaikinya. Setiap kali jiwa itu menginginkannya, mereka menahannya, dengan persangkaan bahwa itulah yang dimaksud (dalam celaan dunia), dan karena ketidaktahuan terhadap hak-hak jiwa. Dan inilah keadaan kebanyakan orang yang berperilaku zuhud berlebihan.” (Ghidza’ al-Albab fi Syarh Manzhumat al-Adab, 2/547).
Sementara Imam Ibnul Qayyim mengatakan:
الدنيا في الحقيقة لا تُذَمُّ، وإنما يُتوجه الذمُّ إلى فعل العبد فيها، ولكن لَمَّا غلبتْ عليها الشهوات والحظوظ، والغفلة والإعراض عن الله والدار الآخرة، فصار هذا هو الغالب على أهلها وما فيها، وهو الغالب على اسمها، صار لها اسم الذم عند الإطلاق، وإلا فهي مَبْنَى الآخرةِ ومزرعتُها، وفيها اكتسبتْ النفوسُ الإيمان، ومعرفةَ الله ومحبتَه وذكرَه ابتغاء مرضاته، وخيرُ عيش ناله أهل الجنة في الجنة، إنما كان بما زرعوه فيها، وكفى بها مدحًا وفضلًا
“Sesungguhnya dunia pada hakikatnya tidaklah tercela. Yang tercela itu adalah perbuatan hamba di dalamnya. Namun ketika syahwat dan kepentingan pribadi, kelalaian, dan sikap berpaling dari Allah serta dari negeri akhirat telah mendominasi (kehidupan manusia di dunia), dan hal itu menjadi sifat yang paling banyak terdapat pada penduduk dunia dan apa yang ada di dalamnya hingga menjadi sifat yang melekat pada nama ‘dunia’ itu sendiri, maka dunia pun menjadi sesuatu yang tercela ketika disebutkan secara mutlak.
Padahal dunia ini adalah pondasi bagi akhirat dan ladang tempat menanam untuknya. Di sinilah jiwa-jiwa meraih iman, mengenal Allah, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mencari keridaan-Nya. Dan sebaik-baik kehidupan yang dinikmati oleh para penghuni surga di dalam surga, semuanya itu adalah buah dari apa yang mereka tanam di dunia ini. Cukuplah hal itu sebagai pujian dan keutamaan bagi dunia.” (‘Uddatush Shabirin, 1/172).
Maka, tepat jika Allah Ta’ala mengajarkan kita untuk “kejarlah akhirat tapi jangan lupakan duniamu”.
Allah ﷻ berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik. (Q.S. Al-Qashash: 77).
Wallahu A’lam.
Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.
✍️ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah














































