
Pertanyaan:
Assaalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, Ustadz Farid yang semoga senantiasa dalam ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Mohon pencerahannya Ustadz mengenai amalan/wirid yang diambil dari ayat-ayat Al-Qur’an atau pun shalawat tertentu dengan jumlah bilangan tertentu. Bagaimana hukumnya dalam syariat?
Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:
Wa’alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh.
Pada prinsipnya berdzikir dengan membaca Al-Qur’an baik satu surat, satu atau dua ayat, adalah dzikir yang terbaik. Sebagaimana yang dikatakan Imam An Nawawi sebagai berikut:
واعلم أن المذهب الصحيح المختار الذي عليه من يعتمد من العلماء أن قراءة القرآن أفضل من التسبيح والتهليل وغيرهما من الأذكار وقد تظاهرت الأدلة على ذلك
Ketahuilah, bahwa madzhab yang benar lagi terpilih yang dipegang kuat para ulama bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama dibanding tasbih, tahlil, dan dzikir lainnya. Hal itu ditunjukkan oleh sejumlah dalil yang ada. (At Tibyan Fi Adab Hamalatil Qur’an, Hal. 24).
Adapun membacanya dengan bilangan tertentu yang dikarang sendiri jumlahnya, maka ini ranah perdebatan ulama. Sebagian membid’ahkan, sebagian membolehkan, seperti Imam Ibnu Taimiyah. Beliau membolehkan berdzikir dengan angka-angka tertentu, bahkan beliau sendiri melakukannya, seperti yang diceritakan oleh murid terdekatnya Imam Ibnul Qayyim.
Imam Ibnul Qayyim mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah:
من واظب على أربعين مرة كل يوم بين سنة الفجر وصلاة الفجر: يا حي يا قيوم، لا إله إلا أنت، برحمتك أستغيث حصلت له حياة القلب، ولم يمت قلبه
Siapa yang getol membaca sebanyak 40 kali setiap pagi antara shalat sunnah fajar (qabliyah Shubuh) dan fajar (Shubuh), “Ya Hayyu Ya Qayyum Laa Ilaaha Illa Anta, birahmatika astaghits” maka dia akan mendapatkan hati yang hidup, hatinya tidak akan mati. (Madarijus Salikin, 1/446).
Angka 40 dalam ucapan Ibnu Taimiyah di atas tidak ada dalam Sunnah, itu adalah dari beliau semata. Padahal beliau dikenal sebagai ulama yang begitu keras terhadap bid’ah.
Sikap kita adalah seperti yang dikatakan oleh Imam Sufyan Ats Tsauri Rahimahullah:
إذا رأيت الرجل يعمل العمل الذي قد اختلف فيه وأنت ترى غيره فلا تنهه.
“Jika engkau melihat seorang melakukan perbuatan yang masih diperselisihkan, padahal engkau punya pendapat lain, maka janganlah kau mencegahnya.” (Imam Abu Nu’aim Al Asbahany, Hilaytul Auliya, 3/133).
Bagi yang tidak menganggap itu sunnah, maka silakan tinggalkan itu dan jangan mencela pelakunya. Lapang dada terhadap perbedaan fiqih.
Demikian. Wallahu A’lam.














































