
Seorang ulama pernah berkata:
رضا الناس غاية لا تدرك ورضا الله غاية لا تترك ، فاترك ما لا يدرك ، وأدرك ما لا يترك
Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai
Ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan
Maka, tinggalkanlah apa-apa yang tidak mungkin tercapai
Capailah apa-apa yang tidak sepantasnya ditinggalkan
(Kalimat ini disandarkan sebagai ucapan Imam Asy Syafi’i dan Aktsam bin Shayfi)
Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah tercapai sepenuhnya. Karena, setiap orang memiliki pikiran, selera, kepentingan, dan penilaian yang berbeda; maka mustahil seseorang dapat menyenangkan semua orang dalam setiap keadaan dan perbuatannya.
Sebaliknya, ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan. Ia dapat dicapai melalui ketaatan, kejujuran, kebaikan, dan kesungguhan dalam menjalani hidup. Karena itu, manusia dianjurkan meninggalkan hal yang tidak mungkin dicapai demi meraih hal yang justru wajib dikejar.
Ingat! Manusia mudah berubah. Manusia sering menilai orang lain berdasarkan keadaan dan kepentingannya sendiri. Seseorang bisa dipuji hari ini, lalu dikritik esok hari tanpa ada perubahan yang berarti pada dirinya. Inilah sebabnya menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama kebahagiaan akan membuat hati selalu gelisah.
Bahkan para nabi, yang membawa kebaikan dan petunjuk, tidak selalu diterima oleh seluruh manusia. Ada yang mendustakan, melawan, bahkan menyakiti mereka. Jika para nabi saja tidak dapat menyenangkan semua orang, maka manusia biasa tentu lebih tidak mungkin melakukannya.
Mengejar ridha Allah Ta’ala bukan berarti mengabaikan manusia atau bersikap acuh tak acuh. Justru, seseorang tetap diperintahkan berbuat baik, adil, santun, dan menolong sesama. Perbedaannya terletak pada niat dan arah: yaitu kebaikan dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan semata-mata demi pujian manusia.
Ketika seseorang memprioritaskan dari amalnya itu adalah ridha Allah, ia akan lebih berani menegakkan yang benar meskipun tidak populer. Ia tidak mudah goyah oleh pujian maupun celaan, karena nilai dirinya tidak lagi bergantung pada pandangan orang lain.
Maka, jika Anda seorang pemimpin, lakukan apa yang mesti lakukan, katakanlah apa yang mesti Anda katakan. Jika itu benar, sesuai syar’iat, maka jalankan dan jadikanlah omongan manusia sebagai cambuk untuk lebih baik.
Jika Anda seorang da’i dan muballigh, jangan berharap semua orang menyukai apa yang Anda sampaikan walaupun Anda menyampaikan dengan ilmu, hujjah, terstruktur, dan kalimat yang lemah lembut.
Apa pun dan siapa pun Anda..
Lakukanlah kebaikan karena Allah Ta’ala, bukan demi pujian.
Jangan mengorbankan prinsip dan kebenaran demi diterima banyak orang.
Terimalah kenyataan bahwa tidak semua orang akan menyukai kita.
Jaga niat, perkataan, dan perbuatan agar selaras dengan keridhaan Allah Ta’ala.
Tetap berbuat baik kepada manusia tanpa menjadikan mereka tujuan tertinggi.
Wallahu A’lam wa Ilaihit Tuklan.
✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah













































