Home AKHLAK & ADAB

Menyikapi Kisah-Kisah Israiliyat

3
SHARE

Kisah Israiliyat adalah riwayat atau kisah yang bersumber dari ajaran atau sejarah Bani Israil, yang masuk ke dunia Islam melalui kitab-kitab hadits dan tafsir.

Dari sisi periwayatan, kisah Israiliyat ini banyak jenisnya, sebagian ada yang masyhur, shahih secara sanad, dan ada juga yang dhaif dan palsu.

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengatakan:

وقد ذكر كثير من المفسرين من السلف والخلف، هاهنا قصصا وأخبارا أكثرها إسرائيليات، ومنها ما هو مكذوب لا محالة

Banyak ahli tafsir baik salaf dan khalaf yang menceritakan kisah-kisah dan berbagai berita yang mayoritas Israiliyat, di antaranya ada yang tidak diragukan lagi kedustaannya. (Al Bidayah wan Nihayah, 2/309).

Beberapa Contoh Kisah Israiliyat

– Kisah katak dan kelelawar yang berdoa agar Allah Ta’ala memadamkan api yang membakar Baitul Maqdis. Sedangkan cicak justru meniupkan agar api tetap nyala dan membesar. Imam Al Baihaqi mengatakan kisah ini shahih, tapi Israiliyat.

– Kisah Juraij, ahli ibadah yang disumpah oleh ibunya karena dia tidak menyahut saat dipanggil ibunya karena dia sedang shalat. Kisah ini shahih, ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim.

– Kisah pemuda Bani Israil yang membunuh 99 orang dan ingin bertaubat, lalu wafat dalam perjalanan taubatnya. Ini shahih, dalam Shahih Bukhari.

– Penyebutan nama malaikat IZRAIL untuk nama malaikat pencabut nyawa. Tidak ada dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, yang ada dalam hadits adalah Malakul Maut.

– Nama-nama pemuda Ashabul Kahfi dan anjingnya. Nama mereka seperti Tamlikha, Miksalina, Mikhaslimina, dan lain-lain, tidak berasal dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, demikian pula nama anjingnya, Qithmir. Dalam surat Fathir ayat 13, ada kata QITHMIR (kulit ari yang tipis) tapi tidak ada kaitan dengan kisah Ashabul Kahfi dan anjingnya.

– Penamaan Zulaikha dalam kisah Nabi Yusuf. Dalam Al-Qur’an hanya disebut Imra’atu ‘Aziz (istrinya ‘Aziz).
– Dan lain-lain.

Bagaimana Menyikapi Kisah-Kisah Bani Israil?

Ada empat sikap:

1️⃣ Menolaknya jika jelas-jelas dusta atau palsu.

2️⃣ Tidak boleh dijadikan rujukan aqidah dan menetapkan halal haram, kecuali yang sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah yang shahih lainnya.

3️⃣ Tidak diambil dan tidak juga menolak, sebagaimana hadits:

إِذَا حَدَّثَكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَلَا تُصَدِّقُوهُمْ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ فَإِنْ كَانَ حَقًّا لَمْ تُكَذِّبُوهُمْ وَإِنْ كَانَ بَاطِلًا
لَمْ تُصَدِّقُوهُمْ

“Jika ada Ahli Kitab yang menceritakan kepada kalian, janganlah kalian benarkan mereka, juga kalian dustakan mereka. Katakanlah, ‘Kami beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya dan para rasul-Nya.’ Jika memang itu benar, maka kalian tidak mendustakannya. Jika memang bathil maka kalian tidak membenarkannya mereka.” (H.R. Ahmad No. 16592).

4️⃣ Boleh diambil pelajaran dalam urusan akhlak, nasihat, dan mental spiritual, selama kisah tersebut shahih. Seperti kisah Juraij yang isinya mengajarkan tentang ketaatan kepada ibu, dan hati-hati dengan sumpah.

Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ

Dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa-apa. (H.R. Bukhari No. 3461).

Nasihat Para Ulama

Imam Abu Ja’far Ath Thahawi Rahimahullah menjelaskan:

قوله لأمته وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج فكان ذلك عندنا والله أعلم إرادة منه أن يعلموا ما كان فيهم من العجائب التي كانت فيهم ولأن أمورهم كانت الأنبياء تسوسها كما

Sabdanya kepada umatnya: “dan ceritakanlah oleh kalian dari Bani Israil, tidak apa-apa” , menurut kami maknanya adalah -Wallahu A’lam- hendaknya mereka mengetahui apa yang terjadi pada mereka (Bani Israil), berupa hal-hal mengagumkan yang ada pada mereka karena mereka dahulu pernah dibimbing para nabi. (Bayan Musykil Al Atsar, 1/73).

Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalani Rahimahullah berkata:

أي لا ضيق عليكم في الحديث عنهم لأنه كان تقدم منه صلى الله عليه و سلم الزجر عن الأخذ عنهم والنظر في كتبهم ثم حصل التوسع في ذلك وكأن النهي وقع قبل استقرار الأحكام الإسلامية والقواعد الدينية خشية الفتنة ثم لما زال المحذور وقع الإذن في ذلك لما في سماع الأخبار التي كانت في زمانهم من الاعتبار وقيل معنى قوله لا حرج لا تضيق صدوركم بما تسمعونه عنهم من الأعاجيب فإن ذلك وقع لهم كثيرا

Yaitu tidak masalah bagimu menceritakan dari mereka karena dulu ada larangan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk mengambil kisah dari mereka dan hati-hati terhadap kitab-kitab mereka, namun kemudian hal itu diberikan kelapangan untuk menceritakan dari mereka. Larangan itu terjadi sebelum mantapnya hukum-hukum Islam dan kaidah-kaidah agama, dan khawatir adanya fitnah. Lalu ketika hal yang demikian telah berlalu, maka diberikanlah izin untuk mendengarkan kabar-kabar yang pernah terjadi pada zaman mereka dahulu yang memiliki i’tibar (pelajaran).

Dikatakan juga makna sabdanya “tidak apa-apa” adalah tidak menyempitkan dadamu jika kamu mendengarkannya dari mereka berupa keajaiban-keajaiban mereka, sebab hal itu memang banyak terjadi pada mereka. (Fathul Bari, 6/498. Darul Ma’rifah).

Demikian. Wallahu A’lam.

Wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam.

✍️ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah