
Tidak ada dalil tentang batasan minimal atau maksimal shaum Daud. Maka, shaum Daud boleh dilakukan semampunya.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
خُذُوا مِنَ الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ، فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا
Lakukanlah amal shalih semampu kamu, karena Allah tidak pernah bosan sampai kamu sendiri yang bosan. (H.R. Bukhari dan Muslim).
Yang penting jangan sampai melemahkan badan, jika sampai melemahkan maka lebih utama meninggalkannya.
Imam Ibnu Muflih mengatakan:
(وأفضله -أي: صوم التطوع- صيام داود كان يصوم يومًا ويفطر يومًا).. وشرطه: أن لا يضعف البدن حتى يعجز عما هو أفضل من القيام بحقوق الله تعالى، وحقوق عباده اللازمة؛ فإن أضعف عن شيءٍ من ذلك كان تركه أفضل، ولهذا أشار الصادق في حق داود عليهما السلام: «ولا يفر إذا لاقى» فمن حق النفس اللطف بها حتى توصل صاحبها إلى المنزل] اهـ.
“Dan yang paling utama—yakni puasa sunnah—adalah puasa Nabi Daud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka (tidak berpuasa) sehari. Syaratnya: puasa tersebut tidak menyebabkan tubuh menjadi lemah hingga seseorang tidak mampu melakukan sesuatu yang lebih utama, yaitu menunaikan hak-hak Allah Ta‘ala dan hak-hak hamba-Nya yang wajib. Jika puasa itu menyebabkan seseorang lemah sehingga tidak mampu melaksanakan salah satu dari kewajiban tersebut, maka meninggalkan puasa tersebut lebih utama. Karena itulah, Ash-Shadiq (yaitu Rasulullah) memberikan isyarat tentang Nabi Daud ‘Alaihimassalam dengan sabdanya, ‘Dan janganlah ia melarikan diri ketika bertemu (musuh) dalam jihad.’ Maka, termasuk hak tubuh/jiwa adalah memperlakukannya dengan lembut dan tidak membebaninya secara berlebihan, agar ia dapat membawa pemiliknya sampai ke tujuan.” (Al Mubdi’ Syarh Al Muqni’, 3/47).
Demikian. Wallahu A’lam.
✍️ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah














































