Home LAIN-LAIN DAKWAH

Mengenal Madzhab Syafi’iy

822
SHARE

(Disarikan dari Muqadimah kitab Al Muharrar fi Fiqhil Imam Asy Syafi’iy, karya Imam Abul Qasim Ar Rafi’iy, Jilid 1 Cet. 1, 2013 M. Penerbit: Darus Salam. Kairo)

1) Kemunculan, Perkembangan, Para Tokoh, dan Karya-karyanya

Madzhab Syafi’i telah melalui beberapa fase kemunculannya. Sebagian ulama membaginya menjadi empat tahap, sebagian ada menyebutnya lima, dan ada yang enam, begitu terus.

Perbedaan ini muncul karena perbedaan metode mereka dalam membatasi fase dan patokan-patokannya.

Di sini, kami akan membaginya menjadi empat fase, yaitu sebagai berikut:

Fase Pertama. Fase penanaman fondasi dan pembangunan

Fase Kedua. Fase penyampaian dan pengenalan madzhab

Fase ketiga. Fase takhashsush (pembentukan karakter dan ciri khas) dan penyebaran

Fase keempat. Fase istiqrar (pemantapan/stabilisasi)

Berikut ini uraiannya:

Fase Pertama. Fase Penanaman Fondasi dan Pembangunan

Madzhab Lama (Qaul Qadim)

Imam Asy Syafi’iy Radhiallahu ‘Anhu, telah mengumpulkan berbagai corak madrasah fiqih yang telah ada sebelumnya. Beliau mempelajarinya sejak usia anak-anak, dari imam-nya Makkah, Muslim bin Khalid Az Zanjiy dan Sufyan bin ‘Uyainah. Beliau bermulazamah dengan para ulama Makkah sampai usia muda.

Lalu di usia hampir 20 tahun, dia ke Madinah dan belajar kepada Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu, salah satu imam madzhab terkenal pula. Beliau bersama Imam Malik sampai wafatnya sang imam (179 H).

Lalu, Allah Ta’ala taqdirkan dia berjumpa dengan Imam Muhammad bin Hasan Asy Syaibaniy, pewaris ilmunya Imam Abu Hanifah (Ahlu Ar Ra’yi). Beliau berjumpa dalam waktu yang cukup lama dan banyak mengambil ilmu darinya. Setelah itu dia kembali ke Makkah.

Di Makkah, beliau mengajar dan menjadi seorang syaikh (guru dan tokoh)-nya Makkah. Banyak penuntut ilmu yang mendatanginya, maka mulailah awal tersebar ilmu Imam Asy Syafi’iy.

Kemudian, beliau safar ke Baghdad, di sana mengajar dan berfatwa. Hadir dalam majelisnya itu para imam dan ulama, seperti Imam Ahmad, Imam Ishaq bin Rahawaih, dan lainnya.

Ijtihad-ijtihad yang ditelurkan di masa ini, oleh para ulama diistilahkan dengan madzhab qadim (qaul qadim/pendapat lama).

Madzhab Baru (Qaul Jadid)

Lalu, Imam Asy Syafi’iy mengembara ke Mesir untuk mengajar penduduknya, serta mempelajari madzhab-nya Imam Al Laits bin Sa’ad, ulamanya Mesir, melalui perantara murid-muridnya.

Beliau ke Mesir tahun 199 H, di akhir-akhir tahun kehidupannya. Beliau menjumpai di Mesir pada ulama dan tokoh-tokohnya, serta para imam yang ada.

Di waktu itu, beliau telah pelajari fiqihnya Imam Al Laits, berbagai permasalahan fiqihnya Imam Al Auza’iy dan mengambil faedah darinya. Beliau menulis buku-buku baru yang diistilahkan para ulama dengan Madzhab Jadid (madzhab baru).

Fase Kedua. Fase Penyampaian dan Pengenalan Madzhab

Imam Asy Syafi’iy Rahimahullah, dengan tangannya telah menyebarkan madzhabnya, meletakkan fondasinya, dan metode dalam istidlal (cara berdalil) dan istimbath (cara menyimpulkan hukum).

Pertama-tama, beliau menyusun kitab Ar Risalah, kedua, beliau menyusun buku-buku yang memuat padanan hal-hal dan perilaku yang dapat menggugurkan pondasi dan rambu-rambu ini.

Beliau begitu all out, berjibaku, apalagi di penghujung usianya, saat dia mengajarkan ilmunya kepada murid-muridnya di Mesir. Beliau menyambung siang dan malamnya dengan kajian, penulisan, dan pengajaran.

Allah Ta’ala memudahkan murid-muridnya membawa dan menyampaikan ilmunya. Murid-muridnya memiliki peran besar atas tersebar dan terjaganya madzhab Asy Syafi’iy.

Murid-murid dan Penyebarannya

– Muridnya di Makkah

1. Abu Bakar Abdullah bin Az Zubair Isa Al Humaidiy Al Qurasyiy (wafat 219 H, atau 220 H)

Beliau adalah kawan Imam Asy Syafi’iy, dan menemaninya rihlah ke Mesir. Dia juga mengambil ilmu dari guru-gurunya Imam Asy Syafi’iy.

Al Hakim mengatakan: “Al Humaidiy adalah muftinya Makkah dan ahli haditsnya, posisinya bagi penduduk Hijaz seperti posisi Imam Ahmad bin Hambal di Iraq.” Imam Bukhari mengambil hadits darinya. Dia memiliki kitab musnad yang terkenal. Wafat di Makkah tahun 219 H atau 220 H.

2. Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad bin Al ‘Abbas bin Ustman bin Syaafi’ Al Muthalibiy (wafat 237 H)

Beliau adalah sepupu Imam Asy Syafi’iy. Beliau mengambil hadits dari Imam Asy Syafi’iy, Al Fudhail bin ‘Iyadh, kakeknya, Al Munkadir bin Muhammad bin Al Munkadir, Hammad bin Zaid, Ibnu ‘Uyainah, dan lainnya.

Murid-muridnya adalah Ibnu Majah, Ahmad bin Siyar Al Marwaziy, Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, Baqiya bin Makhlad, dan lainnya.

Abu Hatim berkata: dia orang yang jujur. An Nasa’iy dan Ad Daraquthniy mengatakan: terpercaya. Dia menyebarkan madzhab Syafi’iy di antara manusia.

Wafat tahun 238 H, ada yang menyebut 239 H.

3. Abul Walid Musa bin Abi Al Jarud

Beliau adalah orang Makkah, ahli fiqih. Meriwayatkan kitab Al Amaliy dan lainnya dari Imam Asy Syafi’iy.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan darinya tentang perkataan-perkataan Imam Asy Syafi’iy di akhir kitab Jaami’ At Tirmidzi.

Ad Daruquthniy mengatakan: “Dia meriwayatkan banyak hadits dari Imam Asy Syafi’iy, dan berfatwa di Makkah dengan madzhabnya Imam Asy Syafi’iy.” Para ulama tidak menyebutkan kapan wafatnya.

(Bersambung)

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah