Home FIQIH FIQIH MUAMALAH

Strategi Para Sahabat Menyikapi Tha’un

137
SHARE

Oleh Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah meriwayatkan dalam Musnadnya:

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ حَدَّثَنِي أَبَانُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ الْأَشْعَرِيِّ عَنْ رَابِّهِ رَجُلٍ مِنْ قَوْمِهِ كَانَ خَلَفَ عَلَى أُمِّهِ بَعْدَ أَبِيهِ كَانَ شَهِدَ طَاعُونَ عَمَوَاسَ قَالَ
لَمَّا اشْتَعَلَ الْوَجَعُ قَامَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ فِي النَّاسِ خَطِيبًا فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لَهُ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ فَمَاتَ رَحِمَهُ اللَّهُ
وَاسْتُخْلِفَ عَلَى النَّاسِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَقَامَ خَطِيبًا بَعْدَهُ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ رَحْمَةُ رَبِّكُمْ وَدَعْوَةُ نَبِيِّكُمْ وَمَوْتُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَإِنَّ مُعَاذًا يَسْأَلُ اللَّهَ أَنْ يَقْسِمَ لِآلِ مُعَاذٍ مِنْهُ حَظَّهُ قَالَ فَطُعِنَ ابْنُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُعَاذٍ فَمَاتَ ثُمَّ قَامَ فَدَعَا رَبَّهُ لِنَفْسِهِ فَطُعِنَ فِي رَاحَتِهِ فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا ثُمَّ يُقَبِّلُ ظَهْرَ كَفِّهِ ثُمَّ يَقُولُ مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِمَا فِيكِ شَيْئًا مِنْ الدُّنْيَا فَلَمَّا مَاتَ اسْتُخْلِفَ عَلَى النَّاسِ عَمْرُو بْنُ الْعَاصِ فَقَامَ فِينَا خَطِيبًا فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا الْوَجَعَ إِذَا وَقَعَ فَإِنَّمَا يَشْتَعِلُ اشْتِعَالَ النَّارِ فَتَجَبَّلُوا مِنْهُ فِي الْجِبَالِ قَالَ فَقَالَ لَهُ أَبُو وَاثِلَةَ الْهُذَلِيُّ كَذَبْتَ وَاللَّهِ لَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْتَ شَرٌّ مِنْ حِمَارِي هَذَا قَالَ وَاللَّهِ مَا أَرُدُّ عَلَيْكَ مَا تَقُولُ وَايْمُ اللَّهِ لَا نُقِيمُ عَلَيْهِ ثُمَّ خَرَجَ وَخَرَجَ النَّاسُ فَتَفَرَّقُوا عَنْهُ وَدَفَعَهُ اللَّهُ عَنْهُمْ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْ رَأْيِ عَمْرٍو فَوَاللَّهِ مَا كَرِهَهُ

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami bapakku dari Muhammad bin Ishaq telah menceritakan kepadaku Aban bin Shalih dari Syahr bin Hausyab Al Asy’ari dari suami ibunya, seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal, dia termasuk yang menyaksikan peristiwa menjangkitnya penyakit Tha’un ‘Amwas yang merajalela, dia berkata;

Ketika Tha’un merajalela, berdirilah Abu Ubaidah bin Jarrah berkhutbah di hadapan orang-orang dan berkata;

“Wahai manusia! sesungguhnya penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doa para Nabi kalian, dan sebab kematian orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Abu Ubaidah memohon kepada Allah untuk mendapat bagian dari rahmat tersebut.”

Lalu dia kena Tha’un tersebut sehingga meninggal dunia -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya.- kemudian Mu’adz bin Jabal menggantikan dia untuk memimpin orang-orang, kemudian dia dia berdiri menyampaikan khutbah setelah wafatnya Abu Ubaidah;

“Wahai manusia, penyakit ini merupakan rahmat dari Rabb kalian, doanya para Nabi kalian dan sebab kematiannya para orang-orang shalih sebelum kalian. Dan sesungguhnya Mu’adz memohon kepada Allah agar keluarga Mu’adz mendapat bagian dari rahmat tersebut.”

Kemudian Abdurrahman bin Mu’adz, anaknya terjangkit penyakit Tha’un sampai meninggal. Dia pun bangkit memohon kepada Rabbnya untuk dirinya, dan akhirnya dia juga terjangkit Tha’un di telapak tangannya. Sungguh saya melihatnya memperhatikan penyakit tersebut kemudian mencium bagian atas tangannya sambil berkata; “Aku tidak senang mempunyaimu dan (aku pergunakan untuk meletakkan perhiasan) dunia ada padamu.”

Ketika dia wafat, ‘Amru bin Al Ash menggantikan kedudukannya untuk memimpin orang-orang. Kemudian dia berdiri menyampaikan khutbah di hadapan kami;

“Wahai manusia! sesungguhnya jika wabah ini menjangkiti (di suatu negri) maka dia akan melahap sebagaimana menyalanya api, maka menghindarlah kalian ke gunung-gunung.”

Tetapi Abu Watsilah Al Hudzali berkata kepadanya; “Demi Allah, kamu telah berdusta, saya pernah menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kamu lebih buruk daripada keledaiku ini.”

‘Amru berkata; “Demi Allah aku tidak akan membalas perkataanmu, demi Allah saya tidak akan memperkarakan perkataanmu itu.” Dia pun keluar dan orang-orangpun ikut keluar berpencar darinya, kemudian Allah melenyapkan wabah tersebut dari mereka.

Ketika pendapat ‘Amr bin al’ Ash tersebut sampai kepada Umar bin Khaththab, demi Allah dia tidak membenci gagasan itu.”

HR. Ahmad no. 1697

A. Status Hadits:

– Syaikh Ahmad Syakir menyatakan DHAIF, karena tidak dikenal siapa yang dimaksud “seorang lelaki dari kaumnya yang menikahi ibunya setelah ayahnya meninggal”.
(Musnad Ahmad, 2/327. Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir)

– Syaikh Syu’aib al Arnauth mengatakan: DHAIF, karena Syahr bin Hausyab seorang yang dhaif, dan syaikh yang ada di sanad ini juga majhul (tidak dikenal). (Ta’liq Musnad Ahmad, 3/226)

B. Fiqih Hadits:

– Abul Hasan al Madaini mengatakan, Tha’un ‘Amwas adalah tha’ un yang terjadi pada masa Khalifah Umar, di Syam, dan menewaskan 15.000 orang.
(Dikutip Imam an Nawawi, al Adzkar, Hal. 138)

– ‘Amwas adalah nama sebuah desa, antara Ramalah dan Baitul Maqdis. al Ashmu’i mengatakan’ Amwas diambil dari ucapan mereka saat Tha’un terjadi: ‘amma wa aasaa. (Imam adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, 4/12)

– Di antara tokoh para sahabat nabi yang wafat adalah Muadz, Abu ‘Ubaidah, Syurahbil bin Hasanah, Abu Malik al Asy’ari. (Tarikh Dimasyqi, 67/198), juga al Fadhl bin’ Abbas. (Thabaqat Ibni Sa’ad, 4/55)

– Dua Khutbah dari Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz bin Jabal Radhiallahu’ Anhuma, menunjukkan sikap mereka yang berbaik sangka dengan Tha’un. Bahwa tha’un adalah rahmat Allah, doa nabi, dan sebab kematian orang-orang shalih. Sehingga justru ini yang harapkan, bahkan Abu ‘Ubaidah dan Mu’adz berharap dia pun dapat bagian rahmat itu.

– Sementata khutbah ‘Amr bin al’ Ash Radhiallahu ‘Anhu, menunjukkan tha’un adalah marabahaya yang luar biasa dan cepat mematikan seperti api yang membakar. Maka, dia menganjurkan manusia untuk naik ke bukit dan gunung untuk menghindar jika ingin selamat.

– Abu Watsilah al Hudzali menolak pendapat Amr bin al ‘Ash dengan keras, dan dianggap itu lebih buruk dari keledainya. Keledai itu simbol kebodohan. Tapi, Amr bin al ‘Ash tidak membalas, dia tetap tegar atas pendapatnya.

– Manusia pun ikut pendapat Amr bin al’ Ash, mereka pun selamat. Wabah Tha’un ‘Amwas pun berakhir dengan izin Allah.

– Sebagian kitab, seperti al Jaami’ ash Shahih Lis Sunan wal Masanid (7/441), mengatakan yang menolak adalah Surahbil bin Hasanah, bukan Abu Watsilah.

Kesimpulannya, ada manusia yang sikapnya seperti Abu Ubaidah, Mu’adz, dan Abu Watsilah, bahwa bencana itu rahmat Allah bagi orang-orang beriman, dan cara matinya orang-orang shalih. Ini benar, bagi orang beriman bencana adalah rahmat, karena akan menghapuskan dosa dan meninggikan derajatnya jika sia bersabar.

– Ada juga yang seperti ‘Amr bin al ‘Ash, sejak masih jahiliyah dia memang ahli strategi dan diplomat ulung. Menurutnya bencana Tha’un itu mesti dihindari, carilah cara untuk itu. Ini juga benar, sebab Allah Ta’ala memerintahkan jangan membinasakan diri sendiri. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga mengajarkan utk menghindari bahaya atau jgn membahayakan orang lain.

– Khalifah Umar setuju atas pendapat Amr, karena Umar sendiri pernah menghindar dari kota yang sedang wabah.

Semoga Allah meridhai mereka semua.

Wa Shalallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa’ ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam