Home FIQIH IBADAH

Kaifiyat Shalat Ringkas – Bangun dari Ruku’ dan I’tidal

79
SHARE

7. Bangun Dari Ruku’ dan I’tidal

Yaitu bangun kembali berdiri tegak dan mengembalikan anggota badan ke posisinya secara stabil.

Hal ini berdasarkan hadits:

ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا

Kemudian bangunlah sampai lurus tegak berdiri. (HR. Muslim no. 397)

Pada posisi ini juga diwajibkan thuma’ninah sebagaimana ruku’.

Apa yang dibaca saat bangun dari ruku’? Yaitu sami’allahu liman hamidah.

Sebagaimana hadits berikut:

كَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ إِذَا افْتَتَحَ الصَّلَاةَ وَإِذَا كَبَّرَ لِلرُّكُوعِ وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ رَفَعَهُمَا كَذَلِكَ أَيْضًا وَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ وَكَانَ لَا يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ

Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat tangannya sejajar dengan pundaknya ketika memulai shalat, ketika takbir untuk rukuk dan ketika bangkit dari rukuk dengan mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH RABBANAA WA LAKAL HAMDU (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, milik Engkaulah segala pujian) ‘. Beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.”

(HR. Bukhari no. 735)

Demikianlah yang dibaca oleh IMAM dan orang yang SHALAT SENDIRI.

Lalu, apa yang dibaca oleh makmum saat bangkit dari ruku’? Apakah sama atau rabbana walakal hamd?

Dalam hal ini, ada dua pendapat ulama.

Pertama. Kelompok yang mengatakan bahwa makmum hanya membaca “Rabbana wa Lakal Hamdu”, bukan membaca “Sami’allahu liman Hamidah.”

Alasan kelompok ini adalah hadits berikut:

Dari Anas bin Malik Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

……وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ….

…. Ketika (Imam) membaca “Sami’allahu liman Hamidah” maka bacalah oleh kalian: “Rabbana wa Lakal Hamdu…..” (HR. Al Bukhari No. 689, 732, 805, Muslim No. 411)

Inilah pendapat sebagian sahabat nabi dan Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, seperti keterangan Imam At Tirmidzi berikut ini:

والعمل عليه عند بعض أهل العلم من أصحاب النبي صلى الله عليه و سلم ومن بعدهم أن يقول الإمام سمع الله لمن حمده [ ربنا ولك الحمد ] ويقول من خلف الإمام ربنا ولك الحمد وبه يقول أحمد

Hadits ini diamalkan oleh sebagian ulama dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dan setelah mereka, bahwasanya Imam membaca “Sami’allahu Liman Hamidah Rabbana walakal Hamdu.” Lalu makmum membaca “Rabbana walakal Hamdu.” Ini juga pendapat Imam Ahmad. (Sunan At Tirmidzi, No. 267)

Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id Rahimahullah mengatakan:

يستدل به من يقول إن التسميع مختص بالإمام فإن قوله: “ربنا ولك الحمد” مختص بالمأموم وهو اختيار مالك رحمه الله.

Hadits ini menjadi dasar bagi pihak yang mengatakan bahwa “tasmi’” (Ucapan Sami’allahu Liman Hamidah) adalah khusus bagi imam, sedangkan ucapannya “Rabbana walakal Hamdu” adalah khusus bagi makmum. Inilah yang dipilih Imam Malik Rahimahullah. (Ihkamul Ahkam Syarh ‘Umdah Al Ahkam, Hal. 141)

Imam Ibnu Abdil bar mengatakan:

وقال مالك وأبو حنيفة وأصحابهما والثوري وأحمد بن حنبل لا يقول المأموم سمع الله لمن حمده وإنما يقول ربنا ولك الحمد فقط وحجتهم حديث أنس هذا وحديث أبي موسى المذكور في هذا الباب

Malik, Abu Hanifah, dan para sahabat mereka berdua, lalu Ats Tsauri, Ahmad bin Hambal, mereka mengatakan makmum tidak membaca “Sami’allahu liman hamidah”, tapi hanya membaca “Rabbana wa lakalhamdu”, dalilnya adalah hadits Anas ini, dan hadits Abu Musa yang disebutkan dalam bab ini. (At Tamhid, 6/150)

Kedua. Kelompok yang mengatakan bahwa makmum juga membaca “Sami’allahu liman hamidah,” lalu dilanjutkan dengan “Rabbana walakal hamdu.”

Inilah pendapat para imam seperti Imam Ibnu Sirin, Imam Asy Syafi’i, Imam Ishaq bin Rahuya (Rahawaih), dan lainnya. Bagi kelompok ini, maksud hadits di atas adalah bentuk pengajaran Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya, tentang apa yang mesti dibaca ketika i’tidal, yaitu “Rabbana walakal hamdu,” yang dibacanya setelah mereka membaca “Sami’allah liman hamidah.”

Imam At Tirmdzi berkata:

وقال ابن سيرين وغيره يقول من خلف الإمام سمع الله لمن حمده ربنا ولك الحمد مثل ما يقو

ل الإمام
وبه يقول الشافعي و إسحق

Ibnu Sirin dan lainnya mengatakan bahwa siapa yang menjadi makmum dan imam membaca “Sami’allahu Liman Hamidah Rabbana wa Lakal Hamdu” hendaknya mengucapkan seperti yang diucapkan oleh imam juga. Inilah pendapat Asy Syafi’i dan Ishaq. (Ibid)

Imam Ibnu Abdil Bar mengatakan:

وقال الشافعي ويقول المأموم أيضا سمع الله لمن حمده ربنا لك الحمد كما يقول الإمام المنفرد لأن الإمام إنما جعل ليؤتم به

Asy Syafi’i berkata: makmum juga mengatakan “Sami’allahu liman hamidah rabbana wa lakal hamdu” sebagaimana yang dibaca oleh imam seorang diri, sebab imam dijadikan untuk diikuti. (At Tamhid, 6/149-150)

Imam An Nawawi dan Imam Ash Shan’ani menguatkan pendapat ini.

Jadi, para imam kaum muslimin telah berselisih masalah ini. Tapi, perselisihan ini bukan dalam masalah batal atau tidaknya shalat. Semua pilihan bacaan tersebut sah dan baik, tidak membatalkan shalat sama sekali.

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan hafizhahullah