Home FIQIH IBADAH

Kaifiyat Shalat Ringkas – Takbiratul Ihram

65
SHARE

2. Takbiratul Ihram

Yaitu ucapan takbir Allahu Akbar, sebagai pembuka shalat sesaat setelah niat. Ini salah satu rukun shalat, tanpanya shalat menjadi batal.

Secara bahasa takbiratul ihram artinya takbir untuk mengharamkan. Maksudnya dengan takbir tersebut maka diharamkan aktifitas lain kecuali hanya bacaan dan gerakan shalat.

Hal ini berdasarkan hadits:

مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم

Kuncinya Shalat adalah bersuci, pengharamnya adalah takbir, dan penghalalannya adalah salam. (HR. Abu Daud, Ahmad, Al Hakim, kata Al Hakim: sanadnya Shahih)

Caranya adalah dengan mengucapkan Allahu Akbar, sambil mengangkat tangan, dan mengangkat tangan hukumnya sunnah.

Dari Abu Humaid:

أن النبي
صلى الله عليه وسلم كان إذا قام إلى الصلاة اعتدل قائما ورفع يديه ثم قال: (الله أكبر) ، رواه ابن ماجه، وصححه ابن خزيمة وابن حبان.

Bahwa Nabi ﷺ jika dia berdiri untuk shalat, maka dia diri tegak lurus, dan mengangkat kedua tangannya dan membaca: Allahu Akbar. (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Bagaimana tata cara mengangkat tangannya? Yaitu boleh sejajar pundak (bahu) dan boleh sejajar telinga.

Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma mengatakan:

رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ، وَكَانَ يَفْعَلُ ذَلِكَ حِينَ يُكَبِّرُ لِلرُّكُوعِ ، وَيَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ، وَيَقُولُ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ، وَلاَ يَفْعَلُ ذَلِكَ فِي السُّجُودِ ” .

“Aku melihat jika Rasulullah ﷺ berdiri shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan PUNDAKNYA. Beliau melakukan seperti itu ketika takbir untuk rukuk dan bangkit dari rukuk dengan mengangkat kepalanya sambil mengucapkan: ‘SAMI’ALLAHU LIMAN HAMIDAH (Semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya) ‘. Namun beliau tidak melakukan seperti itu ketika akan sujud.”

(HR. Bukhari no. 735 dan Muslim no. 390)

Malik bin Huwairits Radhiallahu ‘Anhu berkata:

” أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا كَبَّرَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَكَعَ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى يُحَاذِيَ بِهِمَا أُذُنَيْهِ ، وَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوعِ ” فَقَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ “

Bahwa Rasulullah ﷺ apabila bertakbir mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua telinganya. Apabila rukuk, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar kedua TELINGANYA, dan apabila mengangkat kepalanya dari rukuk seraya mengucapkan; ‘Sami’allahu liman hamidah (semoga Allah mendengarkan orang yang memujiNya)’, beliau melakukan seperti itu juga.

(HR. Muslim no. 391)

Dari keterangan di atas, menunjukkan ada beberapa keadaan disunnahkan mengangkat kedua tangan.

– Saat takbiratul ihram
– Saat akan ruku’
– Saat bangun dari ruku’

Untuk shalat yang empat dan tiga rakaat dianjurkan angkat tangan pula saat bangun dari duduk tasyahud awal.

Dalam Syarhul Mumti’, tertulis:

مواضع رَفْع اليدين أربعة : عند تكبيرة الإحرام ، وعند الرُّكوعِ ، وعند الرَّفْعِ منه ، وإذا قام من التشهُّدِ الأول

Ada 4 posisi mengangkat kedua tangan:

– saat takbiratul Ihram
– hendak ruku’
– bangun ruku’
– dan bangun dari tasyahhud awal.

(Syarhul Mumti’, 3/214)

Demikian. Wallahu A’lam

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan hafizhahullah