Home FIQIH

Qunut Nazilah di Shalat Sirriyah, Apakah Mengeraskan suara?

136
SHARE

Ustadz Farid Nu’man Hasan, Hafizhahullah

Bismillahirrahmanirrahim..

Dalam fiqih madzhab Syafi’i, qunut nazilah itu berlaku di semua shalat wajib yang lima. Semua dilakukan dengan Jahr (dikeraskan suara). Tapi dikeraskan itu mustahab (disukai, sunnah) saja, bukan syarat.

Hal ini berdasarkan informasi hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رِعْلًا وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَبَنِي لَحْيَانَ اسْتَمَدُّوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَدُوٍّ فَأَمَدَّهُمْ بِسَبْعِينَ مِنْ الْأَنْصَارِ كُنَّا نُسَمِّيهِمْ الْقُرَّاءَ فِي زَمَانِهِمْ كَانُوا يَحْتَطِبُونَ بِالنَّهَارِ وَيُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ حَتَّى كَانُوا بِبِئْرِ مَعُونَةَ قَتَلُوهُمْ وَغَدَرُوا بِهِمْ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو فِي الصُّبْحِ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَبَنِي لَحْيَانَ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Dzakwan, ‘Ushayyah dan bani Lahyan meminta bantuan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menghadapi musuh, lalu beliau mengirim bala bantuan tujuh puluh sahabat Anshar, kami menyebut mereka sebagai al Qurra’ di zaman mereka. Mereka biasa mencari kayu bakar di siang hari dan shalat malam di malam harinya, ketika mereka tiba di Bi’rul Ma’unah, mereka (orang-orang kafir) membunuh dan mengkhianati mereka. Ketika peristiwa itu sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau melaksanakan qunut selama sebulan dalam shalat Subuh, beliau mendoakan kecelakaan terhadap penduduk di antara penduduk-penduduk Arab, yaitu Ri’l, Dzakwan, ‘Ushayyah serta bani Lahyan.” (HR. Bukhari no. 4090)

Hadits ini begitu jelas bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan celaka kepada penduduk Arab yang membunuh 70 sahabatnya. Maka, penceritaan ini mustahil diketahui jika doanya sirr (pelan). Itu menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melakukan secara jahr (keras) dan melakukannya disemua shalat wajib selama sebulan.

Imam an Nawawi Rahimahullah mengatakan:

وحديث قنوت النبي صلى الله عليه وسلم حين قُتل القراء رضي الله عنهم يقتضي أنه كان يجهر به في جميع الصلوات ، هذا كلام الرافعي . والصحيح أو الصواب استحباب الجهر

Hadits tentang berqunutnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam ketika dibunuhnya para ahli Al Quran Radhiallahu ‘Anhum, menunjukkan mengeraskan suara di semua shalat. Inilah ucapan Ar Rafi’i. Yang shahih dan tepat adalah disunnahkan mengeraskan suara. (Majmu’ Syarh al Muhadzdzab, 3/482)

Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah mengatakan:

وظهر لي أن الحكمة في جعل قنوت النازلة في الاعتدال دون السجود مع أن السجود مظنة الإجابة كما ثبت ( أقرب ما يكون العبد من ربه وهو ساجد ) وثبوت الأمر بالدعاء فيه أن المطلوب من قنوت النازلة أن يشارك المأموم الإمام في الدعاء ولو بالتأمين ،ومن ثمَّ اتفقوا على أنه يجهر به

Yang benar menurutku hikmah kenapa qunut nazilah itu dilalukan saat i’tidal, bukan saat sujud, padahal sujud itu momen dikabulkannya doa sebagaimana hadits shahih (posisi paling dekat antara hamba dengan Rabbnya adlah saat sujudnya) dan telah shahih pula perintah berdoa saat itu. Karena, yang dituntut dari qunut nazilah adalah kesertaan makmum terhadap dengan mengaminkan, oleh karena itu mereka sepakat bahwa itu dijaharkan suaranya. (Fathul Bari, 2/570)

Namun, sebagai wacana ilmiah, kami sampaikan bahwa:

– Menurut golongan Malikiyah, hanya berpendapat qunut nazilah di SHALAT SUBUH SAJA.

-Sedangkan Hanafiyah, qunut nazilah hanya di shalat Jahriyah (isya, maghrib, subuh) saja.

– Hambaliyah, SAMA dengan SYAFI’IYAH, tapi khusus shalat JUMAT mereka TIDAK ADA qunut nazilah krn sdh ada doa di khutbah. Ini juga pendapat sebagian tabi’in seperti Thawus, Makhul, an Nakha’i, al Hasan, dan Qatadah.

Demikian. Wallahu A’lam