Home FIQIH IBADAH FIQIH QURBAN, AQIQAH DAN SEMBELIHAN

Qurban untuk Orang yang sudah Wafat

22
SHARE

Qurban atas nama orang yang sudah wafat, adalah perkara yang diperdebatkan para ulama.

1️⃣ BOLEH

Ini pendapat mayoritas, baik Hanafi, Maliki, dan Hambali.

Alasannya, ibadah harta (maaliyah) bisa diwakili untuk orang yang sudah  wafat, Rasulullah ﷺ juga mengizinkannya.

Dari Sa’ad bin ‘Ubadah Radhiyallahu ‘Anhu, katanya :

قلت يا رسول الله إن أمي ماتت أفأتصدق عنها قال نعم قلت فأي الصدقة أفضل قال سقي الماء

“Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku wafat, apakah aku bersedekah untuknya?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Aku berkata, ‘Sedekah apa yang paling afdhal?’

Beliau menjawab, ‘Mengalirkan air.'”

(H.R. An Nasa’i No. 3664, Ibnu Majah No. 3684. Shahih).

Hadits ini menunjukkan kebolehan sedekah atas nama orang yang sudah wafat, dan qurban bagian dari sedekah.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وَالْأَئِمَّةُ اتَّفَقُوا عَلَى أَنَّ الصَّدَقَةَ تَصِلُ إلَى الْمَيِّتِ وَكَذَلِكَ الْعِبَادَاتُ الْمَالِيَّةُ : كَالْعِتْقِ

“Para imam telah sepakat bahwa sedekah akan sampai kepada mayit, demikian juga ibadah maaliyah (harta), seperti membebaskan budak.” (Majmu’ Al Fatawa, 5/466).

Imam Al Buhuti mengatakan :

قَالَ أَحْمَدُ : الْمَيِّتُ يَصِلُ إلَيْهِ كُلُّ شَيْءٍ مِنْ الْخَيْرِ مِنْ صَدَقَةٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ غَيْرِهِ لِلْأَخْبَارِ

Imam Ahmad berkata, “Sampai kepada mayit semua bentuk amal kebaikan, baik berupa doa, sedekah, dan amal shalih lainnya, karena adanya riwayat tentang itu.” (Syarh Muntaha Al Iradat, 3/16).

Alasan lain, Rasulullah ﷺ pernah berqurban atas nama umatnya (H.R. Muslim), sedangkan umat Rasulullah ﷺ ada yang masih hidup dan sudah wafat.

Sehingga ini juga dalil atas kebolehannya.

2️⃣ TIDAK BOLEH

Ini pendapat Syafi’iyah, kecuali jika si mayit berpesan sebelum wafatnya baik berupa nadzar atau waqaf. Sebab, qurban adalah ibadah yang memerlukan niat, jika tidak diketahui adanya keinginan dari pequrban maka tidak dibenarkan berqurban atas nama seseorang tanpa izinnya.

Dalam Al Mausu’ah dijelaskan:

وَذَهَبَ الشَّافِعِيَّةُ إِلَى أَنَّ الذَّبْحَ عَنِ الْمَيِّتِ لاَ يَجُوزُ بِغَيْرِ وَصِيَّةٍ أَوْ وَقْفٍ

Kalangan Syafi’iyah berpendapat tidak boleh berqurban untuk mayit tanpa diwasiatkan dan waqaf. (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah).

Namun demikian, cukup banyak Syafi’iyah kontemporer membolehkan sebagaimana pendapat mayoritas.

Wallahu A’lam.

✍ Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah