Home AKHLAK & ADAB

Yahudi Masa Lalu, Mengganti Salam Dengan yang Bukan dari Islam

111
SHARE

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan, dan durhaka kepada Rasul. Dan apabila mereka datang kepadamu (Muhammad), MEREKA MENGUCAPKAN SALAM DENGAN CARA YANG BUKAN SEPERTI YANG DITENTUKAN ALLAH UNTUKMU. Dan mereka mengatakan pada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita atas apa yang kita katakan itu?” Cukuplah bagi mereka Neraka Jahanam yang akan mereka masuki. Maka neraka itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al Mujadilah: 8)

Imam as Suyuthi Rahimahullah mengatakan tentang sebab turunnya ayat di atas:

وأخرج أحمد والبزار والطبراني بسند جيد عن عبدالله بن عمرو أن اليهود كانوا يقولون لرسول الله ﷺ سام عليكم ثم يقولون في أنفسهم لولا يعذبنا الله بما نقول فنزلت هذه الأية

Imam Ahmad, Imam Al Bazzar, dan Imam Ath Thabarani meriwayatkan dengan sanad yang jayyid (baik), dari Abdullah bin ‘Amr bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada Rasulullah ﷺ : “SAAMUN ‘ALAIKUM (kebinasaan untukmu)”, lalu mereka berkomentar: “Jika salam kami salah kenapa Allah tidak mengazab kami?” Lalu turunlah ayat ini.(Imam as Suyuthi, Lubab An Naqul fi Asbabin Nuzul, Hal. 541. Dar Ibn al Jauzi. Cet. 1, 2013)

Maka, sejarah berulang lagi. Lagu lama kembali diputar, hanya beda aransemennya. Dulu Assalamualaikum, diganti Saamun ‘alaikum, saat ini diganti dengan Salam Pancasila. Dulu pelakunya orang-orang Yahudi, sekarang pelakunya orang yang mengaku muslim.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah mengatakan:

فإذا كان الأمر كذلك فالذي ينبغي عدم تغيير ألفاظ هذه العبادة ، ولا الزيادة عليها ، فهي سنة الأنبياء والمرسلين ، وهي شعار المؤمنين من جميع الأمم .

Jika begitu keadaannya, maka tidak sepantasnya mengubah lafaz yang bernilai ibadah ini (maksudnya Assalamualaikum), tidak boleh ditambah-tambahkan, sebab itu adalah sunnah para nabi dan rasul, serta syiar orang-orang beriman di tengah umat seluruhnya.(Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 138666)

Wallahul Musta’an

Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah