Home KONSULTASI SYARIAH

Pemberian Nama Anak dengan Tahtim, Tahlil dan Doa (Penabalan)

392
SHARE
Pemberian Nama Anak dengan Tahtim, Tahlil dan Doa (Penabalan)

Pertanyaan:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bagaimana ajaran islam tentang kelahiran anak, apakah “penabalan” nama itu sesuai dgn ajaran Islam. Penabalan adalah pemberian nama kepada anak dengan membuat acara mengundang tetangga. Ada acara baca tahtim, tahlil dan doa.

Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah

Itu adalah tradisi, bukan syariat, yang ada di sebagian muslim di Indonesia. Kita tidak dapati di daerah lainnya, bahkan di Indonesia. karena masing-masing daerah ada caranya sendiri dalam mensyukuri hal tersebut.

Memberikan nama sendiri adalah ajaran syariat, berbarengan dengan aqiqah yaitu menyembelih kambing dan mencukur rambut.

Lalu, apakah ini sebuah kesalahan? Dalam Ushul Fiqih, ada istilah al ‘Urf (tradisi), yaitu kebiasaan yang terjadi di sebuah daerah.

Al ‘Urf, tradisi, ada macam:

1. Al ‘Urf Ash Shahih, tradisi yang baik .. tradisi yang tidak berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah, tapi isinya tidak bertentangan dengan Islam. Maka, tradisi ini tidak terlarang. Nah, di lihat saja apakah acara tersebut ada konten yang bertentangan dengan Islam, atau isinya hal-hal yang baik misalnya sedekah, membaca Al Qur’an, berdoa yang baik-baik.

Para ulama mengatakan:

الثابت بالعرف كالثابت بالنص

Ketetapan hukum karena tradisi itu sama seperti ketetapan hukum dengan Nash/dalil. (Syaikh Muhammad ‘Amim Al Mujadidiy At Turkiy, Qawa’id Al Fiqhiyah, no. 101)

Syaikh Abu Zahrah mengatakan, bahwa para ulama yang menetapkan ‘Urf sebagai dalil, itu sekiranya jika tidak ditemukan dalil dalam Al Qur’an dan As Sunnah, dan itu pun tidak bertentangan dengannya.
Tapi, jika bertentangan maka ‘Urf tersebut mardud (tertolak), seperti minum khamr dan makan riba. (Ushul Fiqih, Hal. 418)

2. Al ‘Urf Al Fasad, tradisi yang rusak. Yaitu tradisi yang tidak berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah, dan isinya pun bertentangan dengan Islam. Maka ini semua tertolak dan tidak boleh dilestarikan.

Misal, kebiasaan lempar sesajen ke laut, atau sesajen lainnya. Tradisi corat-coret seragam pelajar setalah UN, dan tradisi jelek lainnya. Ini jelas terlarang.

Demikian. Wallahu a’lam